Jelajah Nusantara (1) : Wisata Religi ke Jawa Tengah

Beberapa tahun ke depan Rey yang berencana melanjutkan SMA di Selandia Baru dan tinggal bersama papinya membuat saya ingin menanamkan jiwa nasionalisme sebelum kepindahannya, dengan ‘cara saya’. Yah….. cara saya adalah traveling jelajah nusantara :) .

Agenda jelajah nusantara pertama kami sebenarnya ke Surabaya yang akhirnya saya lakukan seorang diri karena saat itu Rey memilih menghadiri perpisahan dengan teman-teman primary Al Irsyad Satya Islamic School Bandung di Ciateur. Walau dengan berat hati merelakan tiket pesawat yang telah dibeli hangus, saya tak kuasa memaksa Rey untuk turut melakukan wisata religi ke makam Walisongo di Jawa Timur.

Seperti biasa, Adel selalu OGI (ogah rugi) mengenai tiket pesawat. Air Asia promo destinasi baru Jakarta-Semarang seharga Rp.50.000/person (one way) jauh lebih murah di banding bis malam sekalipun rute Bandung-Semarang (tersenyum puas).

Jauh-jauh hari saya telah booking penginapan di Simpang Lima Residence untuk 2 malam yaitu Sabtu dan Minggu tanggal 13-14 Oktober 2012.Pilihan ini saya ambil setelah membaca banyak ulasan yang sangat baik di trip advisor. Harga kamar deluxe Rp. 320.000 include breakfast yang menurut kami sangat layak. Fasilitas lain penginapan ini adalah antar-jemput dari dan ke bandara.

rey makan 2 mangkuk soto ayam campur

Breakfast @RM. Soto Bangkong Semarang

Setelah titip koper, saya dan Rey yang dijemput oleh salah seorang sahabat saya (Cudhori) di penginapan langsung mencari sarapan mengingat waktu telah menunjukkan pukul 7 lewat beberapa menit. “Mami, laper nih”, rengek Rey sambil memegang perutnya. “Ok sayang. mau makan apa?”, tanya saya. “Pokoknya yang seger-seger deh”, timpal Rey cepat menggambarkan isi perutnya yang kosong.

Mendengar percakapan kami Ndori teman SMP saya saat sekolah di Kudus langsung mengajak kami makan di Soto Bangkong. Alhamdulillah Rey sangat lahap dan menghabiskan 2 mangkuk soto ayam campur. “Doyan atau rakus?” canda saya. “Enak dan kebetulan Rey laper banget” jawab anak semata wayang itu sambil nyengir.

Perut telah terisi kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Demak. Ndori di balik kemudi bercerita tentang pertemanan saya dengannya kepada Rey. Tak sampai 1 jam kami telah tiba di Masjid Agung Demak. “Waaaah adem ya saat masuk masjidnya, padahal tadi diluar panas banget”, begitu kesan Rey saat memasuki masjid yang terletak di alun-alun kota Wali ini. Sayapun menceritakan beberapa kisah tentang sejarah berdirinya masjid ini dan peran Sunan Kalijogo dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Memasuki kawasan masjid kami melewati pintu masuk utama yang bernama Lawang Bhledeg yang dipercaya mampu menangkal petir. Pintu ini bertuliskan Nogo Mulat Saliro Wani yaitu bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H. Serambi di bagian depan masjid berupa ruang terbuka tanpa dinding dan ruangan dalam. Ada juga tempat khusus jamaah wanita di sebelah kiri yang disebut Pawestren, dibangun pada tahun 1866 M.

situs kolam wudhu

Masjid Agung Demak berdiri di tengah kota menghadap alun-alun yang merupakan pusat kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Kota Demak sendiri saat itu seakan ingin meyatukan kawasan masjid, kraton dan sarana-sarana pendukungnya termasuk alun-alun di bagian tengah. Lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain sekaligus sebagai lambang 5 rukun Islam yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sementara enam jendelanya melambangkan 6 rukun iman yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada kitab-Nya, percaya kepada malaikat-Nya, percaya datangnya kiamat, serta percaya kepada qada dan qadar.

Rey dg latar saka tatal @Masjid Agung Demak

Di samping masjid ada ruangan kecil berfungsi sebagai museum penyimpan benda-benda bersejarah. Di sini juga tersimpan bekas tiang soko guru dan sirap karena masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi sebagian besar masih asli.  Ada pula kentongan  kuno. Di bagian belakang masjid terdapat makam raja-raja kerajaan Bintoro Demak, termasuk makam Raden Fatah. Ada juga kitab tafsir  Alquran hasil tulisan tangan Sunan Bonang yang tersimpan dalam lemari kaca.

Arkeologis Masjid Agung Demak

Di Masjid Agung Demak terdapat benda-benda arkeologi yang  bernilai sejarah tinggi. Benda-benda itu adalah :

Soko Majapahit, tiang  berjumlah 8 buah terletak di serambi masjid. Soko ini merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi yang diberikan kepada Raden Fatah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan untuk jamaah wanita. Dibangun menggunakan konstruksi kayu jati beratap limasan berupa sirap atau atap dari kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai berukuran 15 x 7,30 meter. Pawestren dibuat dengan bentuk dan motif ukiran maksurah dengan nilai estetika yang unik dan indah berukirkan tulisan Arab yang intinya mengagungkan Tuhan. Anda dpat menikmatinya keindahan ini yang mendominasi ruang dalam masjid. Prasasti di dalam maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Surya Majapahit, yaitu gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka atau 1479 M.

Prasasti Bulus, di sini  terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Disimpulkan bahwa Masjid Agung Demak berdiri tahun 1401 Saka.

Dampar Kencono, merupakan mimbar untuk khotbah. Benda ini merupakan peninggalan Majapahit sebagai hadiah dari Prabu Brawijaya ke V untuk Raden Fatah Sultan Demak I.

Soko Tatal atau Soko Guru, jumlahnya ada 4 berupa tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudlu, dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga saat ini situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Saat itu kolam air ini yang menghubungkan bagian luar dan dalam masjid. Selain sebagai sarana untuk menyucikan diri, juga mengandung perlambang agar masyarakat selalu membersihkan diri dari berbagai kotoran yang menempel dalam diri dan hati.

Menara Masjid Agung Demak, merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat adzan yang didirikan dengan konstruksi baja. Ketika dibangun, masjid ini tidak memiliki menara seperti kondisi sekarang. Menurut cerita yang beredar, tidak dibangunnya menara ketika itu adalah untuk menghormati masyarakat sekitar masjid yang mayoritas masih beragama Hindu dan Budha. Dalam menyebarkan ajaran Islam, para wali ini sangat toleran terhadap agama Hindu dan Budha dan cara berdakwah pun tidak meninggalkan budaya lokal yang berkembang. Tidak ada paksaan, apalagi kekerasan dalam menyebarkan ajaran Islam. Pola dakwah yang digunakan para wali adalah kerja keras, ketekunan, keikhlasan, dan kasih sayang. Oleh karena itu, para wali ini mendapat simpati luar biasa dari masyarakat Jawa. Awal abad ke-15 mayoritas penduduk Jawa masih memeluk agama Hindu dan Budha tetapi seabad kemudian mayoritas penduduk di Pulau Jawa telah menjadi pemeluk Islam.  Saat itu Masjid Agung Demak menjadi pusat keislamannya dan tak pernah sepi dari jamaah. Masjid Agung Demak menjadi  masjid paling tua di Pulau Jawa dan digarap oleh 9 wali (Wali Songo) bersama-sama masyarakat Islam setempat. Kesembilan wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. (sumber : Indonesia Travel)

Tak lama di dalam masjid kami langsung berziarah ke makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Delanggu. Jaraknya sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak.

peziarah di makam Sunan Kudus

Sinar mentari makin terasa garang di wajah kami yang terbiasa dengan udara sejuk kawasan perumahan dimana kami tinggal yaitu kotabaru parahyangan Padalarang Bandung. Tak terpengaruh oleh terik matahari, perjalanan dilanjutkan menuju masjid Menara Kudus dimana terdapat makam Sunan Kudus. (Sejarah masjid ini telah ditulis pada perjalanan saya ke Kudus tahun lalu).

harus menduplikasi garang asem ayam buatan kakakku ini

Untuk menghemat waktu mengingat saya memiliki janji memberikan tutorial kreasi syal, kami tidak mencari makan siang di tempat lain tapi di Warung Makan Bariklana milik kakak saya yang lokasinya tak jauh dari masjid menara. Rey suka dengan garang asem ayam buatan budhenya dan saya diwajibkan untuk bisa menduplikasi masakan tersebut nanti di rumah (Hmm….begitulah kelakuan anak saya).

Peluh membasahi pakaian kami namun waktu tak boleh terbuang sia-sia. Ndori masih berada di balik kemudi dengan setia mengantar saya dan Rey menuju Colo sebagai destinasi terakhir ziarah ke makam Sunan Muria.

nungguin ojek

komplek makam Sunan Muria

pecel pakis fav aku @Colo

Alhamdulillah cuaca di Colo jauh lebih sejuk di banding pusat kota Kudus. Walau begitu saya memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju komplek makam Sunan Muria mengingat waktu yang tidak memadai bila kami harus berjalan kaki menapaki anak tangga sejauh kurang lebih 1,5 km..

Ojek dengan tarif Rp 8000,- (one way) kami di antar menuju lokasi makam Sunan Muria. Selama perjalanan dengan ojek tampak  panorama indah alam pegunungan Muria yang memiliki ketinggian 1.602 meter dari permukaan laut.

Seperti terdapat di makam-makam walisongo Jawa Timur, saya melihat berderet pedagang souvenir di kiri kanan tangga.

Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.

Nama Sunan Muria sendiri  berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus Jawa Tengah tempat beliau dimakamkan.

deluxe room simpang 5 residence

Usai berziarah kami langsung menuju Omah Mode di kota Kudus, disana telah menunggu beberapa teman dimana saya akan memberikan tutorial kreasi syal. Tutorial rampung saat adzan maghrib dan tak lama saya dan Reyhan kembali ke Semarang yang kali ini bersama dengan Anita dan keluarganya yang hendak berakhir pekan di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

@lawang sewu

Esok harinya di Semarang kami jalan-jalan naik angkutan umum dan becak menuju beberapa lokasi diantaranya Paragon Mall, Citraland Mall, dan Lawang Sewu. Tempat terakhir adalah destinasi yang sangat Rey inginkan karena terinspirasi acara dunia lain di salah satu stasiun TV.

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda.

di ruang eksekusi (pada masa penjajahan)

‘pose’ as seen on TV (dunia lain)

Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu. (sumber : seputar semarang.com)

Sore hari selepas ashar saya  memberikan tutorial kreasi syal kepada beberapa teman lalu makan malam di salah satu food court. “Rawonnya lebih enak bikinan nenek”, gumam Rey mengomentari hidangan di hadapannya. Alhasil sayur kuah hitam itu berkurang hanya sedikit dan saya tak bisa membantu Rey menghabiskannya karena nggak doyan daging.

cuma akting @toilet pria peninggalan belanda yg masih berfungsi

toilet asli peninggalan belanda ini cukup bersih dan masih bisa digunakan oleh pengunjung

Senangnya plesir ke Semarang dan Kudus salah satunya karena memiliki banyak teman. Masa kecil hingga remaja saya dihabiskan di 2 kota ini. Rey akhirnya telah menginjakkan kaki dimana emaknya dulu tinggal.

Hari berikutnya pukul 6 pagi saya harus menuju bandara untuk kembali ke Bandung via Jakarta. Kali ini tidak menggunakan fasilitas antar dari hotel karena mbak Trisni dan mbak Ani yang akan mengantar kami. Duh…senangnya, selain diantar kami juga dibawakan bekal sarapan risoles buatan mbak Trisni sendiri. Matur nuwun sanget mbakyu :) .

Perjalanan ini seperti ditulis diatas untuk mengenalkan Rey akan keberagaman Indonesia baik mengenai geografi, sejarah juga mengasah jiwa nasionalisme yang kadang surut dalam dirinya ketika melihat begitu banyak ‘hal negatif’ yang terjadi di negri ini. Dia sering melakukan perbandingan kondisi di negri sendiri dengan apa yang dia alami saat kami traveling ke manca negara.

Sebagai seorang mualaf dengan segala keterbatasan ilmu, saya ingin Rey mendapat pengetahuan tentang Islam lebih dari maminya. Berharap juga perjalanan ini dapat mempertebal keimanan kami, menghargai/toleransi terhadap umat beragama lain, tidak mudah menghakimi atau merasa paling benar dengan sesama muslim.

“Selalu ada pembelajaran dari setiap perjalanan”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 447 other followers