Jelajah Nusantara (4) : Jawa Timur

James A. Michener :”If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay home”.

Walaupun kemampuan english saya jauh dibawah Reyhan tapi kalau hanya untuk mengartikan kalimat diatas sih entenglah haha (nggak layak bangga juga untuk itu :p).

Quote diatas benar-benar menginspirasi untuk terus melakukan perjalanan karena saya bukan termasuk kategori orang yang disebut om Michener (halaaaaaah tetep nyari justifikasi) wkwkwk.

Pada dasarnya saya memang sangat menikmati setiap keunikan yang dimiliki oleh suatu daerah. Unik tentu sangat subjektif sehingga setiap orang akan melihat dari sudut pandangnya masing-masing.

Saya senang mengamati cara berpakaian, mencicipi makanan khas, mempelajari dan menghargai tata nilai yang ada, mencermati kebersihan dan kerapihan lingkungan, mengetahui budaya setempat, dan lain-lain.

Selain gemar  ‘hunting’ yang unik-unik saya juga selalu memilih Reyhan friendly destination. Usia Rey sekarang 13 tahun artinya dia telah memasuki awal masa remaja. Dengan usia tersebut bukan berarti dia kehilangan hasrat bermain, sehingga tetap saya tawarkan apa saja yang dia inginkan selama traveling.

Tak mudah untuk memancing Rey berbicara apa yang dia inginkan, karena itu saya tetap memberi dia berbagai alternatif pilihan lengkap dengan alasannya. Dalam perjalanan akhirnya dia akan menyadari bahwa apa yang saya tawarkan dan dia pilih sesuai dengan keinginannya atau tidak. Misal : saat saya mengajak dia mengunjungi lokasi api abadi di Pamekasan-Madura awalnya Rey menolak karena kental dengan mistis, dan dia berpendapat masih banyak  tempat lainnya yang memiliki aura mistis lebih dari itu misalnya lawang sewu yang telah kami kunjungi di Semarang.

Menyiasati hal itu saya mencoba masuk ke dalam logika Rey yang menyukai ilmu sains, saya katakan bahwa api abadi tidak menyala semata karena mitos seperti berkembang di masyarakat tapi  karena tanah dikawasan itu mengandung belerang yang bergesekan dengan O2 sehingga menimbulkan api. Mengetahui tentang hal itu tampak Rey ‘bermain’ api dengan riangnya.
inilah anak remajaku

inilah anak remajaku

Usia Rey yang memasuki awal remaja seperti teori yang dikatakan Monks, dkk bahwa : “Suatu analisis yang cermat mengenai semua aspek perkembangan dalam masa remaja, yang secara global berlangsung antara umur 12 hingga 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal, 15-18 tahun: masa remaja pertengahan, 18-21 tahun: masa remaja akhir (sumber : http://amarsuteja.blogspot.com).

Seorang ahli psikologi Ny. Singgih D Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Dalam mendidik Rey saya tidak ingin menjadi orang tua otoriter, sebaliknya berusaha memberi dia ruang gerak yang luas untuk mengekspresikan diri. Saya hanya mendampingi dan memberi ‘sign’ bila terlihat dia salah melangkah. Hal ini saya maksudkan agar Rey belajar mengatasi masalah dan mengambil keputusan. Tentu semuanya saya lakukan dengan perlahan sesuai tahapan kecerdasan berpikir dan perkembangan psikologisnya.

Puisi Kahlil Gibran tentang anak dibawah ini menjadi salah satu inspirasi saya dalam membersamai Rey.

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Tulisan tentang jelajah nusantara kali ini ingin saya tuangkan secara berbeda karena selama perjalanan saya melihat dan merasakan begitu banyak hal berubah dalam diri Rey.

Rey yang telah mulai saya ajak plesir sejak bayi, batita, balita, usia anak-anak dan kini memasuki masa remaja tentu terekam dengan jelas oleh saya bagaimana sikap dan perilaku yang berbeda selama traveling.

Saat bayi saya sering mengajak Rey jalan-jalan di sekitaran Bandung. Misal ke Lembang menikmati sejuknya kebun teh.

Selain itu saya juga mengenalkan padanya berbagai permainan yang ada di Mall dengan segala hiruk pikuk suaranya. Dengan begitu saya harap dia bisa merekam perbedaan antara suasana di alam terbuka yang tenang dan bermain di Mall yang meriah. Hal itu menurut saya cukup penting agar Rey mudah beradaptasi dalam setiap keadaan.

Rey di kebun binatang Bdg saat usia 2 taun dan 12 taun, tepat berdiri di titik yg sama

Rey di kebun binatang Bdg saat usia 2 taun dan 12 taun, tepat berdiri di titik yg sama

Menginjak usia batita Rey mulai dikenalkan dengan taman bunga di Puncak-Bogor, wisata pantai Pangandaran, mengenalkan satwa di taman safari Bogor dan kebun binatang Bandung.

Usia balita saya mengajak Rey berwisata edukatif ke taman lalu lintas Bandung, Taman Mini Indonesia Indonesia, Sea World & Dunia Fantasi  Jakarta. Saya juga mulai mengajak Rey plesir ke luar negeri. Saat itu saya sangat repot dengan bawaan perlengkapan anak yang bejibun, capeknya menggendong saat menaiki alat transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya, rentannya kondisi kesehatan Rey, dll.

Memasuki usia anak-anak saya di buat sibuk dengan berbagai pertanyaan “apa ini dan apa itu”, mulai bisa protes dengan destinasi yang menurut dia tidak menarik, namun yang menyenangkan di usia ini Rey cukup kooperatif dalam setiap perjalanan dengan pembagian tugas yang telah kami sepakati sebelum pergi.

Kini di usia remaja, dia jauh lebih matang dan toleran dalam menghadapi ketidak-nyamanan yang ditemui, bisa diajak berdiskusi dalam pengambilan keputusan, dan bisa menjaga kondisi badan dengan baik agar semua itinerary yang telah disusun dapat terlaksana tanpa hambatan kesehatan hanya karena kurang istirahat.

Alhamdulillah traveling mengajarkan banyak hal kepada Reyhan, belajar dengan cara menyenangkan tentunya :D .

Berikut adalah kota-kota dan destinasi wisata yang kami kunjungi pada penjelajahan di Jawa Timur:

1. Malang

Masjid Jami’ Malang.

Ketika hendak menjalankan sholat maghrib saya sangat terkesan dengan kebersihan toilet dan tempat wudlu wanita di masjid ini.

Lantainya tidak licin karena lumut, temboknya bersih, toilet tak beraroma ‘khas’ WC Umum, dan yang makin kagum adanya beberapa deret pot bunga palsu di sepanjang tembok pembatas. “Wah andai bunganya asli alias yang hidup pasti akan lebih terasa asri”, batin saya.

tempat wudlu paling bersih dari semua masjid yang pernah saya kunjungi

tempat wudlu paling bersih dari semua masjid yang pernah saya kunjungi

ibu sri astuti yang membuat tempat ini begitu bersih

ibu sri astuti yang membuat tempat ini begitu bersih

Saya sempat berbincang dengan ibu Sri Astuti petugas kebersihannya dan ibu berkerudung ini mengatakan :”Niat saya beribadah dan bekerja dengan ikhlas mbak, terima kasih sudah menyukai kebersihan disini”. Matanya tampak berbinar saat saya memberikan penghargaan dan kekaguman yang sangat tinggi kepada beliau. “Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amalan baik”. Batin saya sebelum meninggalkan tempat wudlu itu.

dengan desika

dengan desika

masjid Jami' Malang

masjid Jami’ Malang

Di masjid ini saya juga bertemu dengan Desika, dia salah seorang yang menonton penampilan saya di acara MCI2-RCTI beberapa waktu lalu. Desika juga memberi informasi tentang destinasi wisata dan beberapa tempat makan yang masuk daftar harus dikunjungi hehe. Thanks Desi :) .

2. Batu

@BNS

@BNS

mas yoyok, saya dan Rey main perang laser @BNS

mas yoyok, saya dan Rey main perang laser @BNS

taman lampion @BNS

taman lampion @BNS

salut buat pemerintah Batu yg serius menjadikan Batu Kota Wisata

salut buat pemerintah Batu yg serius menjadikan Batu Kota Wisata @alun-alun kota batu

- Batu Night Spectacular info lengkapya bisa dilihat disini : http://www.malang-guidance.com/batu-night-spectacular-bns/

Jatim Park2

Jatim Park2

museum satwa @JP2

museum satwa @JP2

narsis dulu :p

narsis dulu :p

walo ujan deras nggak mati gaya dong, tetep bisa mengeksplor wahana di JP2...*well prepare traveler

walo ujan deras nggak mati gaya dong, tetep bisa mengeksplor wahana di JP2…*well prepare traveler. Bawa payung dan jas ujan dari rumah

Batu Secret Zoo menurutku lebih bagis drpd singapore zoo

Batu Secret Zoo menurutku lebih bagus drpd singapore zoo

ini sih gaya doang. Aslinya Rey lebih berani saat masuk rumah hantu di JP2

ini sih gaya doang. Aslinya Rey lebih berani saat masuk rumah hantu di JP2

e-bik buat yang males jalan kaki keliling JP2

e-bike buat yang males jalan kaki keliling JP2

penataan wahana permainannya mengingatkan kami saat ke Disneyland Paris

penataan wahana permainannya mengingatkan kami saat ke Disneyland Paris

- Jawa Timur Park 2 (Jatim Park 2). Sekitar 5 tahun lalu saya telah mengunjungi Jawa Timur Park 1 sehingga kali ini memutuskan tidak kembali kesana. Info lengkap tentang Jatim Park ada disini : http://jawatimurpark2.com/

petik lalu makan buah apelnya :)

petik lalu makan buah apelnya :)

selain apel, disini terdapat bbrp jenis binatang

selain apel, disini terdapat bbrp jenis binatang

- Kusuma Agro Wisata. Info lengkapnya ada disini : http://www.kusuma-agrowisata.com/hotel/en/index.php- Alun-alun Batu info lengkapnya ada disini :http://infobatumalang.blogspot.com/2011/06/alun-alun-kota-batu.html

kami ga kebagian seat di bus gratis ini hikz

kami ga kebagian seat di bus gratis ini hikz

3. Surabaya

Di ibukota Jawa Timur ini rencana awal saya akan keliling kota dengan menggunakan bus gratis yang biasa disebut Surabaya Heritage Track (SHT). Namun kami kurang beruntung karena kursi untuk hari Sabtu tanggal 26 Januari 2013 telah penuh hiks (padahal saya menelepon saat masih di Bandung). Info lengkap tentang SHT ada disini : http://heritage-hossurabaya.blogspot.com.

Mengatasi keadaan itu saya langsung mengubah rencana untuk langsung menyeberang ke Pulau Madura.

sayang sekali jalan menuju api abadi ini sangat tidak nyaman (banyak lubang)

sayang sekali jalan menuju api abadi ini sangat tidak nyaman (banyak lubang)

@studio Karimata FM

@studio Karimata FM

dg salah seorang penyiar yg sedang bertugas

dg salah seorang penyiar yg sedang bertugas

tambak garam salah satu sumber penghasilan masyarakat

tambak garam salah satu sumber penghasilan masyarakat

4. Pamekasan

Api Abadi. Info tentang destinasi ini bisa dilihat disini : http://travel.detik.com/read/2011/12/16/143654/1792901/1025/wow-ada-api-abadi-di-madura

Selain Api Abadi, kami juga mampir ke studio radio Karimata FM. Ternyata mas Hendra dan mas Tamsil adalah pemeran tokoh musafir pada tayangan adzan maghrib di TV one beberapa waktu lalu. Saya sangat familiar dengan tayangan tersebut karena pemirsa setia TV milik keluarga Bakrie itu hehe.

pohon cemara udang @pantai lombang

pohon cemara udang @pantai lombang

keunikan pantai lombang, pemerintah setempat melarang didirikannya hotel atau penunjang wisata lainnya oleh investor dari luar

keunikan pantai lombang, pemerintah setempat melarang didirikannya hotel atau penunjang wisata lainnya oleh investor dari luar dg tujuan  memberdayakan masyarakat setempat

Odong-odong Tom&Jerry @Sumenep

Odong-odong Tom&Jerry @Sumenep

@masjid Sumenep with KArimata FM crew

setelah sholat Isya @masjid Sumenep with Karimata FM crew

museum sumenep

museum pamekasan (makasih koreksinya mas Hendra hehe). miniatur karapan sapi, salah satu tradisi Madura. Sayang saat kesana hujan lebat jadi kami ga bisa menyaksikan karapan sapi yg biasa diselenggarakan tiap akhir pekan

aku dan Rey @masjid ukir pantai lombang

aku dan Rey @masjid ukir pantai lombang

5. Sumenep

Di kota ini kami mengunjungi masjid Jami’ , Museum Keraton, pantai Lombang yang info lengkapnya ada disini : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sumenep

Di dekat pantai Lombang ada sebuah masjid yang bangunannya sangat unik dan cantik. Ukiran di sekeliling bangunan baik luar dan dalam dengan paduan warna emas, merah dan hitam membuat masjid tampak begitu mewah.

photogapher kami xixi @pantai Lombang

sebagian besar foto di Madura yg saya posting adalah hasil jepretan mas Hendra sang photographer. Matur nuwun @pantai Lombang

Yang tak kalah menarik di Sumenep adalah keberadaan odong-odong di alun-alunnya. “Di Madura tidak boleh sembarangan mendirikan Mall mbak Adel. Untuk itu harus seijin para kyai disini. Oleh karenanya masyarakat Sumenep yang ingin belanja biasanya menyeberang ke Surabaya dan bagi yang ingin sekedar menghabiskan malam panjang di hari sabtu dapat berkumpul dialun-alun. Disini ada banyak permainan anak-anak salah satu yang paling menarik adalah odong-odong”. Begitu penjelasan teman saya menangkap keheranan akan bentuk odong-odong yang beragam di kota ini. “Niat banget”, batin saya :) .

ketawa mulu jalan bareng mereka

ketawa mulu jalan bareng mereka

Saat menaiki odong-odong berbentuk Tom&Jerry saya berbincang dengan pengendara yang sekaligus pemiliknya sehingga diketahui bahwa modal membuat kendaraan yang sangat digemari anak-anak itu bisa mencapa 20 juta rupiah. Wow….

Alat transportasi yang kami gunakan :
Rey tertidur di damri dari Surabaya kota menuju terminal Bungurasih

Rey tertidur di damri dari Surabaya kota menuju terminal Bungurasih

1. Bus Damri

Dari rumah kami menggunakan bus Damri menuju Bandung Trade Centre (BTC). Tarif Damri Rp. 5.000/orang. Dan dari Pavilijoen hotel menuju terminal Bungurasih kami juga menaiki bus pemerintah ini yang selanjutnya kami akan menyeberang menuju Madura dengan bus patas

berbincang dg petugas @terminal Bungurasih

berbincang dg petugas @terminal Bungurasih

suka dg kebersihan terminal bungurasih

suka dg kebersihan terminal bungurasih

bus patas yang kami naiki berhenti di terminal pamekasan

bus patas yang kami naiki berhenti di terminal pamekasan

2. Taksi

Dari BTC kami menggunakan taksi Blue Bird ke bandar udara Husein dengan pembayaran minimal sebesar Rp. 25.000. Moda transportasi (dari rumah) gabungan Damri dan Taksi yang kami pilih jauh lebih ekonomis dibandingkan harus naik taksi dari rumah menuju bandara yang dikenai tarif Rp. 70.000 (non argo). Taksi non argo kami gunakan sekembali dari Surabaya.

pengalaman pertama untuk Rey menaiki bus patas antar kota

pengalaman pertama untuk Rey menaiki bus patas antar kota

3. Bus antar kota dalam propinsi

Dari terminal Bungurasih Surabaya menuju Pamekasan-Madura, bus patas AC tarifnya Rp. 37.000/orang

Garuda harga promo dong hehe

Garuda harga promo dong hehe

menurut Rey garuda cuma menang servicenya, kalo terbangnya enakan air asia

menurut Rey garuda cuma menang servicenya, kalo terbangnya enakan air asia

Walo terbang kurang dari 1 jam dari Bdg-Srby, sempet narsislah :p

tetep dong jeprat-jepret :p

4. Pesawat

Saya membeli tiket Garuda Bandung-Surabaya saat mengadakan promo (early bird) pada tanggal 18 September 2012 untuk penerbangan 24 januari 2013 dan kembali 27 Januari 2013 seharga Rp. 628.000/person/return (include tax). Harga ini tentu sangat murah dibanding harga normalnya Rp. 1.200.000-an pada tanggal penerbangan yang sama. (saya melakukan pengecekan melalui online hehe)

Rey baru pertama kali ke Suramadu, emaknya udah ke sekian kali hehe

Rey baru pertama kali ke Suramadu, emaknya udah ke sekian kali hehe

5. Travel

Jasa transportasi ini saya gunakan dari Bandar udara Juanda menuju kota Malang karena pertimbangan waktu. Harga Rp. 65.000/orang. Dari Batu – Surabaya tarifnya Rp. 80.000/orang

teman2 yang asik selama perjalanan di Madura

teman2 yang asik selama perjalanan di Madura

6. Kendaraan pribadi teman.

Reyhan berkomentar, “Temen mami kayak kuman, dimana-mana ada. Di malang dan Batu ada om Yoyok, di Surabaya ada ibu Raharjo, di Madura ada om Hendra-om Syamsul-om Nanang-om Tansil-tante Septy-tante-Keni (Karimata FM crew).

Terima kasih untuk kalian semua, sungguh tak ada kata yang bisa mewakilkan rasa bahagia mengenal dan menjalin silaturahmi yang indah ini.

panorama

para petani apel @kusuma agro

7. Ojek.

Wah ini pengalaman naik ojek yang sangat mendebarkan. Awalnya kami akan menggunakan 2 ojek dari hotel Surya Indah menuju Kusuma Agro Wisata namun karena tarifnya yang ditawarkan terlampau tinggi jadi saya memilih opsi naik 1 buah ojek untuk kami berdua. Artinya satu motor dinaiki 3 orang (driver ojek, saya dan rey hehe).

Pantas saja pengemudi ojek memberi alternatif menggunakan 1 ojek karena ternyata dia mengenal semua polisi yang bertugas sehingga kami aman tidak kena tilang xixi. Saya hanya membayar Rp. 50.000 dari hotel Surya Indah ke lokasi wisata buah apel, mas ojek menunggu dan pulangnya kami diantar ke Jatim Park 2.
naik angkot tetep pake jas ujan @batu

naik angkot tetep pake jas ujan @batu

8. Angkutan umum

Jarak hotel Surya Indah ke Jatim Park 2 sangatlah dekat. Kami bisa berjalan kaki namun untuk menghemat waktu dan tenaga maka angkutan umum menjadi pilihan dengan tarif Rp. 2.000/orang

Hotel :
TV-nya 'dipenjara' @hotel surya indah Batu

TV-nya ‘dipenjara’ @hotel surya indah Batu

1. Surya Indah-Batu.

Hotel ini kelebihannya berlokasi sangat dekat dengan BNS dan Jatim Park2. Namun fasilitas lainnya seperti layanan kamar maupun sarapan tidak sesuai dengan harga yang saya bayar Rp. 430.000 dan dilakukan full payment sebelum kedatangan.

Pavilijoen hotel Surabaya

Pavilijoen hotel Surabaya

lokasi Pavilijoen hotel

lokasi Pavilijoen hotel

2. Pavilijoen Hotel Surabaya.

Budget hotel ini salah satu favorit dari semua yang pernah saya tinggali di beberapa kota. Pantas saja para backpacker bule senang menginap disini saat plesir ke kota pahlawan. Tarif semalam hanya Rp. 198.000.

Kuliner :
yg asik bakso pedasnya yg bentuk kotak

yg asik bakso berbentuk kotak. pedeeees…

1. Bakso Kota Cakman-Malang

Mengunjungi Malang rasanya nggak lengkap kalau kami tidak makan bakso khas kota ini. Bakso Kota di Bandung juga ada beberapa cabang dan saya pernah makan di salah satu cabangnya. Matur nuwun mas Yoyok yang mentraktir kami makan disini.

pesanan kami : tahu petis, pecel terong, rawon buntut @RM Inggil

pesanan kami : tahu petis, pecel terong, tempe penyet, rawon buntut @RM Inggil

interior museum resto ini sungguh keren

interior museum resto ini sungguh keren

salah satu sudut ruangan yg sesuai dg konsepnya sbg museum resto

salah satu sudut ruangan yg sesuai dg konsepnya sbg museum resto

2. RM. Inggil-Malang.

Hmm…kesan pertama masuk resto ini sudah membuat selera makan saya langsung ‘meninggi’. Padahal sebelumnya kami telah mengisi perut di bakso kota namun ketenaran RM yang memiliki interior unik ini sangat menggelitik kepenasaran saya untuk mencicipi. Kesimpulan : Tempat, rasa, pelayanannya OK semua. Plus harganya tidak menjebol isi dompet saya haha.

cakar ayamnya kami nggak doyan

cakar ayamnya kami nggak doyan

3. Mi cakar setan-Batu

Lokasinya tepat di depan gerbang Jatim Park, kami menemukan kedai sederhana ini saat naik ojek menuju wisata apel dan Rey langsung berbisik, “Mami nanti kita makan disitu ya, kayaknya enak”. Mie-nya memang cukup enak namun kami berdua sama-sama nggak bisa makan cakar ayamnya karena nggak doyan. Alhasil cakar tersebut kami kembalikan kepada pemilik kedai tanpa harus mengurangi harga per porsi Rp. 5000. (Rey menghabiskan 2 mangkuk mie disini haha).

ketan pesananku

ketan bubuk pesananku

4. Ketan Legenda-Batu

Tengah malam usai bermain di BNS kami diajak mas Yoyok makan di Ketan Legenda yang lokasinya berada di sebelah barat Alun-alun Kota Batu.  Saya mencicipi Ketan Bubuk, Rey Ketan Keju Meses, dan saya lupa mas Yoyok memesan menu yang mana hehe.

mangkuk kedua soto campur lorjuk

mangkuk kedua soto campur lorjuk

5. Soto Campur Lorjuk dan rengginang lorjuk

Ini adalah makanan khas Pamekasan-Madura. Terdiri dari lontong, bihun dan kerang pisau yang biasa di sebut lorjuk. Kuahnya sangat kental dan gurih. Yang agak mengganggu bagi saya adalah sambalnya amat sangat banyak minyak hikz. Kami disini makan masing-masing 2 porsi (rakus :p). Oya terima kasih kepada Karimata FM crew yang menjamu kami selama di Pulau Madura. Its so nice to meet you all guys :) .

rujak cingur @sumenep

rujak cingur @sumenep

nyobain ngulek bumbunya

nyobain ngulek bumbunya

6. Rujak cingur-Sumenep

Wah disini lagi-lagi saya dan Rey menyantap rujaknya tanpa cingur. Jadi hanya sayuran dan lontong, rasanya …not bad karena kami bisa menelannya. Hanya bayangan cingur yang sedikit merusak selera makan kami berdua hehe.

nggak jadi ke rawon setan karena kata ibu raharjo lebih enak rawon suwir pak pangat ini

nggak jadi ke rawon setan karena kata ibu raharjo lebih enak rawon suwir pak pangat ini

harganya terjangkau

harganya terjangkau

pilihan ibu raharjo ternyata benar. Rey tak menyisakan makanannya

pilihan ibu raharjo ternyata benar. Rey tak menyisakan makanannya

7. Rawon Suwir Pak Pangat

Setelah Rey puas makan buntut rawon di RM. Inggil Malang dia diajak ibu Raharjo mencicipi nasi rawon suwir pak Pangat. Dan tak ada yang tersisa di piringnya pertanda dia cocok dengan makanan tersebut. (saya nggak makan karena nggak doyan daging)

nah ...makan ikan aku baru lahap

nah …makan ikan aku baru lahap

8. Ikan Wader goreng di Kedai Kincir

Nah kalo disini saya menyantap lahap ikan wader yang di goreng kering lengkap dengan sambal dan lalap. Bener-bener selera GW banget ini haha. Dan yang lucu Rey yang awalnya tak berniat makan karena sudah menyantap rawon suwir namun saat mencicipi langsung menyamber piring dan bergabung bersama saya dan ibu Raharjo melahap hidangan yang ada dimeja. (Bahkan saya membungkus beberapa porsi untuk di bawa pulang ke Bandung hehe).

Shawl Creation

Berjanji ketemu beberapa orang teman di Surabaya pukul 8 malam. Alhamdulillah saya sempat berbagi tips dan beberapa model kerudung kepada teman pingpong.

Sungguh tak ada rasa lelah walau setiba di Surabaya malam hari dari Batu tidak istirahat sama sekali dan langsung memberi free tutorial kepada mbak Evi, mbak Silvi, Septy dan Christine yang jauh-jauh dari Sidoarjo dan Madura datang ke Pavilijoen hotel di mana saya dan Rey menginap selama di Surabaya.
free tutorial utk temen2 pingpong

free tutorial utk temen2 pingpong

Traveling dengan segala perniknya selalu membuat saya ketagihan untuk melakukannya. Rey yang sedari bayi sudah dibiasakan bepergian semakin tampak menikmati setiap perjalanannya dari waktu ke waktu. Bahkan bila dia melihat ulasan atau berita di televisi tentang daerah yang pernah dikunjungi dengan lantang selalu berkata, “Rey udah pernah kesana ya mami”.

asiknya bercengkerama saat traveling

asiknya bercengkerama saat traveling

Selain keunikan setiap daerah, traveling membuat kami bisa bertemu dan menjalin persahabatan dengan penduduk setempat sehingga Rey pernah berucap, “Teman mami tuh kayak kuman, ada dimana-mana. Di Jawa Tengah banyak teman mami, Kalimantan ada juga, waktu ke Medan dan Aceh ketemu teman, Surabaya-Malang-Madura janjian dengan teman mami juga”. Dan saya menimpali, “Itulah mamimu ini sayang, walau bertampang jutex tetap senang berteman dengan orang yang memang benar-benar niatnya berteman. Bukan teman yang ‘menusuk dari belakang’ atau ‘teman yang berwajah seribu’, bukan pula teman yang ‘bertopeng teman’. Teman ya teman dan bisa akrab seperti saudara tapi jangan pernah pura-pura berteman untuk berharap lebih dari teman”. Reyhanpun mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan panjang saya.

Surabaya Short Trip

image

Perjalanan singkat saya bersama Reyhan awal Desember lalu dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan Ken masterchef. Dan ini adalah kali pertama anak saya menginjakkan kaki di ibu kota Jawa Timur.

Mendarat di bandara juanda saya tak lagi bingung harus menggunakan transportasi apa menuju kota Surabaya. Naik bus Damri hingga terminal Bungurasih lalu ganti bus Damri lainnya yang melewati Tunjungan Plaza (TP).

image

“Mami berapa lama kita harus gelantungan kayak gini”, tanya Rey ketika kami tak kebagian kursi saat perjalanan menuju TP. “Kayaknya sampe nanti harus turun, sabar ya sayang”, jawab saya berusaha menenangkan Rey yang baru kali ini merasakan gelantungan di dalam bus kota. “Kita ini traveler ya mami, jadi nggak boleh manja”, celetuk Rey sambil melihat ke arah saya sambil tersenyum dan kalimat itu membuat saya lega karena awalnya khawatir Rey akan ngambek.

image

image

Sudah sangat lama saya mengenal hotel Pavilijoen dari obrolan para backpacker manca negara di dunia maya. Mereka merekomendasikan tempat ini kepada backpacker lainnya bila hendak melancong ke Surabaya karena harga yang ekonomis dan lokasinya sangat strategis di jalan genteng besar no 94-98.

Dengan bantuan Septy saya telah memesan kamar sebelum kedatangan ke Surabaya. Kamar deluxe memiliki fasilitas AC, privat bathroom and breakfast (roti dan teh/kopi) seharga Rp. 198.000.

image

image

Hotel dengan ikon ‘vespa nangkring’ didepannya ini memiliki kebijakan yang sangat bijak hehe, yaitu hanya menerima tamu dari luar kota Surabaya dalam arti penduduk kota Surabaya tidak boleh menginap disini. Hotel ini juga memiliki fasilitas antar/jemput bandara seharga Rp. 100.000 untuk satu kali jalan menggunakan kendaraan minibus. Yah cukup ekonomis bila kita bersama rombongan. Memang sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan tarif taksi blue bird dari hotel ke bandara seharga Rp. 90.000 include parkir dan tol.

image

image

Walau hanya semalam menginap disini namun keramahan pegawainya membuat saya merasa telah bermalam sekian lama. Hal itu juga yang membuat saya memutuskan Pavilijoen menjadi tempat istirahat untuk agenda travel kami selanjutnya.

Surabaya Day 3 : Culinary

Dining room @Ibis Hotel

Breakfast Menu di Ibis Hotel yang menurut saya kurang ‘nendang’ membuat tak ingin berlama-lama berada diruang makan, tanpa menunggu perut terisi penuh saya langsung menuju reception untuk check out. Dari hotel saya memutuskan menggunakan taksi ke rumah Retha yang disana telah semalaman personel geng ijo begadang memasak jajan pasar untuk dijual  dalam rangka menyemarakkan Urban Culture Festival HUT kota Surabaya.

sebelum meluncur ke taman Apsari

narsis dulu sebelum buka lapak

hasil karya geng ijo

Saya putuskan menggunakan taksi agar menghemat waktu sehingga bisa segera bergabung dengan teman-teman untuk membantu mereka mempersiapkan makanan yang hendak dijual. Tarif taksi dari Ibis JMP ke Ngagel Rp. 35.000. Sayapun membuat janji dengan pak Kurdi (driver taksi) untuk mengantar saya ke bandara nanti sore, hal ini saya persiapkan agar waktu bersama teman-teman untuk berjualan lebih maksimal di banding kalau saya menggunakan kendaraan umum menuju bandara.

dg ibu Rudy

suka ama sambelnya :)

pilah-pilih

Sebelum memulai jualan saya mengajak teman-teman untuk makan siang di RM. Bu Rudy. Sebagai penggila makanan pedas, saya penasaran dengan cita rasa sambalnya yang  telah merambah beberapa negara.

Lokasi RM. Bu Rudy berada di  Jalan Raya Kupang Indah No.7 persis di sebelah Primarasa. Selain menu andalannya udang goreng terdapat hidangan lain seperti sop buntut, tempe penyet, cumi penyet, nasi urap, nasi rawon, bermacam-macam kue basah, tahu petis dan aneka krupuk.  Ciri khas udang goreng Bu Rudy adalah kerenyahan kulit udangnya yang makin mantap bila disantap bersama sambal. nyam nyam banget deh hehe.

Setelah membuktikan sendiri wenaknya sambel bu Rudy saya langsung membeli beberapa toples sambal yang harganya   Rp. 25.000-an, waduuuuh nggak nyangka cuma buat beli sambel saja saya harus merogoh kocek hingga tiga ratus ribu rupiah.

panas2 makan es krim, segeeer :)

@zangrandi

daftar menu dan harga

Puas makan dan berfoto dengan si empunya resto, kami langsung menuju Zangrandi Ice Cream. Handmade ice cream ini menurut Retha paling laris disana sehingga sangat layak dicoba. Rasanya? not bad…. mengingatkan saya akan Gelato yang sempat saya dan Rey cicipi di beberapa kota di Italia. Zangrandi memang tak seenak gelato menurut saya, kelembutan dan kekayaan rasanya masih jauh dibanding es krim kebanggaan orang Italia itu. Namun ukuran handmade ice cream lokal  so so lah rasanya hehe.

dengan Septy

sok sibuk

penjual makanannya keren2 haha

melayani pembeli pertama

Bu Rudy sudah dijabani, Zangrandi telah dicicipi maka kembalilah kami bergabung dengan teman yang menunggu lapak di depan Taman Apsari. Disitulah akhirnya saya bertemu dengan Septy, travel advisor untuk Surabaya  Trip ini hehe. Kami tak lama berhaha-hihi karena keburu sok sibuk melayani pembeli :D .

penjual rujak cingur di tunjungan. Photo by Septy

semanggi, makanan khas Srby. Photo by. Septy

pilihan kuliner lainnya

Alhamdulillah kedatangan saya ke Surabaya bertepatan dengan pesta rakyat yang tengah digelar. Urban Culture Festival dalam rangka HUT Surabaya ke-719 di sepanjang jalan Tunjungan dimulai pukul 15.00 WIB – 22.00 WIB, hmmm…sayangnya saya tak sempat menikmati itu karena harus meluncur ke bandara pukul 3 sore namun atmosfir keriuhan sudah saya rasakan sejak siang hari. Urban culture festival ini baru pertama kali diselenggarakan, diantaranya dimeriahkan oleh aksi 1.000 orang penari Remo. Tarian tersebut akhirnya dicatat dalam rekor MURI dan yang tak kalah seru saat  ibu Walikota dan Bapak Kapolwiltabes turut menari :) . Selain tarian dan makanan pengunjung festival juga bisa menikmati pameran kerajinan dan produk lokal surabaya seperti batik mangrove, kerajinan bordir, dan lain-lain.

Pak Kurdi yg tak ingkar janji menjemputku di taman Apsari

toilet bandara Juanda

Tak terasa jarum jam telah menunjuk ke angka 3 dan pak Kurdi telah berjanji menjemput di taman Apsari untuk mengantar saya ke bandara. Ada rasa sesal tak bisa menemani teman-teman berjualan hingga akhir tapi saya nggak bisa meminta pesawat untuk menunggu tho hahaha. Dengan tarif taksi Rp. 106.500 (termasuk biaya tol) saya sampai bandara Juanda. Satu lagi kesan baik di kota pahlawan ini, toilet di bandara Juanda bersih dan tak berbau ‘busuk’. Lagi-lagi saya ingin membandingkan dengan toilet-toilet bandara di benua Eropa atau Oceania (pengamat kebersihan toilet nih haha), ternyata kali ini saya pantas untuk angkat topi. Sangat beralasan bila Juanda mendapat predikat terbaik pada Penyelenggaraan penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Bersih Bandara tahun 2011.

Yah….bukan pertama kali saya menginjakkan kaki di Surabaya, namun baru sekarang saya membawa pulang sekian banyak memori baik tentang kota ini. Semoga Surabaya makin maju terlebih dibawah kepemimpinan ibu Tri Rismaharini yang menjadi salah satu kandidat kepala daerah terbaik dunia versi organisasi nirlaba The City Mayors Foundation. I love Indonesia dengan segala ‘tetek-bengek’nya :D .

Surabaya Day2 (3) : Sunan Gresik-Sunan Giri-Sunan Ampel

di dalam minibus menuju Gresik

SUNAN GRESIK

Terdengar kumandang adzan maghrib saat saya tiba di Gresik dari Paciran-Lamongan. Perjalanan menuju kota seluas 1.191,25km² itu memerlukan waktu kurang lebih 90 menit. Terhitung lama karena saat itu peak hour, bubaran para pekerja sehingga terjadi antrian di sepanjang perjalanan. Kendaraan umum yang saya naiki adalah minibus dengan tarif Rp. 9.000.

jepret dulu saat isi bahan bakar

matahari mulai tenggelam saat sampai di Gresik

Sesuai petunjuk driver minibus saya turun di Sentolong lalu melanjutkan perjalanan menggunakan len kuning dan turun di perempatan bank BNI dengan tarif Rp. 3.000. Dari BNI saya naik becak menuju makam Sunan Gresik seharga Rp. 7.000. (harusnya sih 5.000 menurut pak supir minibus tapi saya sudah enggan negosiasi mengingat malam hampir tiba dan saya tak mau kehabisan waktu untuk itu).

di depan pintu gerbang

komplek makam sunan Gresik

air gentong yang dipercaya ‘berkhasiat’

Sunan Gresik yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah Muhammad SAWmelalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi,Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husaini(Maulana Akbar). Sedangkan nama dan Maulana Malik Ibrahim sendiri artinya adalah keturunan orang Hadrami yang berhijrah. (sumber : wikipedia)

SUNAN GIRI

para pengemis :(

Dari makam Sunan Gresik saya menuju makam Sunan Giri menggunakan jasa ojek yang berada tepat di depan makam sunan Gresik. Tarifnya Rp. 10.000. Lokasi makam Sunan Giri terletak di desa Giri, Kecamatan Kebomas, sekitar 4 km dari alun-alun kota Gresik. Tidak terlalu sulit untuk mencapai lokasi ini, karena terletak di antara perbatasan Gresik dan Surabaya.

komplek makam sunan Giri

Sunan Giri adalah anak pernikahan antara Maulana Ishaq (seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah), dengan Dewi Sekardadu (putri Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan Banyuwangi pada masa-masa akhir Majapahit). Saat kelahirannya Sunan Giri dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut sehingga sang bunda dipaksa untuk membuang anaknya dengan  menghanyutkan ke dalam laut. Atas Ijin Allah SWT tentunya, bayi lelaki tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal yaitu Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.

Menginjak dewasa Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak perlu waktu lama  Sunan Ampel mengetahui identitas murid kesayangannya itu dan bersama Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang) mengirim keduanya untuk mendalami ajaran Islam di Pasai dengan guru bernama Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah Joko Samudra yang bernama asli Raden Paku mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang. Setelah berguru Raden Paku  kembali ke Gresik dan mendirikan pesantren Giri di desa Sidomukti Kebomas. Giri artinya Gunung yang berbukit. Sejak itu beliau dikenal dengan sebutan Sunan Giri.

Menuju komplek makam Sunan Giri kita harus menaiki anak tangga yang cukup banyak. Di sisi kiri kanan berjejer para penjual makanan dan souvenir sedangkan di tengah-tengah tangga tampak para pengemis. Kehadiran para pengemis disana menurut saya menjadi nilai minus diantara begitu banyak nilai positif yang saya lihat. Misal : kamar mandi dan toiletnya bersih di banding kompleks sunan lainnya, cahaya lampu yang terang dan toko souvenirnya tertata rapi.

Sekitar pukul 7.30 malam saya meninggalkan kompleks makam sunan Giri menggunakan ojek menuju perhentian len kuning tujuan Surabaya (tepatnya JMB). Tarif ojek Rp. 10.000 (tarif malam hari), kalau siang biasanya Rp. 5.000 :) .

Mas ojek menyarankan saya untuk menunggu len kuning di depan RS. Semen Gresik. “Wah mbak ini hebat, berani ziarah sendiri. Aku baru lho ketemu peziarah seperti mbak, cantik- baik -pemberani-dan enak diajak ngobrol” saya hanya tertawa mendengar celoteh mas ojek yang tak sempat saya ketahui namanya itu.

Naik Len kuning hingga JMP saya dikenai tarif seharga RP. 10.000, waktu tempuh sekitar 50 menit. “Alhamdulillah” batin saya sesampainya di depan Ibis hotel. Saya menyempatkan untuk icip-icip nasi goreng di depan hotel. Nasgor ini tampak ramai oleh pembeli sehingga mengusik kepenasaran saya. “Mbak mau pake mi atau tidak nasi gorengnya? karena kalo disini nasi goreng dicampur mi” tanya penjual nasgor dengan ramah, “nggak pak, nasi aja” jawab saya singkat sambil mbatin “mosok nasi kok dicampur mi, karbo semua deh hehe”.

SUNAN AMPEL

temen2 makan dulu sebelum ke makam sunan Ampel. ‘Nothing special’ @Padin

nasgor di depan Ibis hotel

Tabah, salah seorang teman saya mengirim pesan apakah masih kuat untuk melanjutkan perjalanan menuju makam sunan Ampel, tentu saya jawab masih. Agenda mengunjungi seluruh makam sunan di Jawa Timur harus saya habiskan malam itu juga. Alhamdulillah akhirnya saya ditemani oleh Retha dan suaminya, Nita, Amudi dan Tabah menuju makam sunan Ampel. Konon di kompleks makam tersebut cukup rawan bila malam hari, hal itu saya ketahui dari beberapa orang yang sempat saya temui dan mengingatkan jangan berziarah ke makam sunan Ampel di malam hari seorang diri. Hmmm….ternyata benar, di makam sunan Ampel memang peziarah jauh lebih banyak dari pada makam sunan lainnya. Untuk masuk ke dalam saja saya harus berdesakkan dan yang kurang sreg bagi saya penjaga makamnya tidak ramah seperti penjaga makam sunan lainnya. “Mungkin karena padatnya pengunjung yang menjadikannya seperti itu” begitu batin saya berusaha positif thinking.

Sunan Ampel atau  Raden Rahmat, diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah  Makhdum Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati).

teman2 yg mengantarku

@komplek makam sunan Ampel

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya. Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunannyang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati (anak Sultan Champa) yang menjadi permaisuri raja Brawijaya.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok.

pelepas dahaga yg ‘berkhasiat’

akhirnya nyoba juga

lepas sandal sebelum masuk komplek makam

Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang (Sunan Bonang). (sumber : wikipedia)

Surabaya Day2 (2) : Sunan Dradjat-Lamongan

@Elf otw Paciran, bareng para bakul pasar :)

Berbeda dengan lokasi makam Sunan Bonang yang berada di pusat kota Tuban, makam Sunan Dradjat terletak jauh dari perkotaan, tepatnya di desa Drajat Kecamatan Paciran, Lamongan Jawa Timur. Jadi teringat ucapan Septy, “Teh, makam sunan Dradjat jauh dari kota jadi susah lho kesananya”, mendengar itu saya malah tertantang dan manjawab, “Wah dengan gitu aku malah harus bisa sampe sana Septy”, terdengar gelak tawa Septy ditelepon sambil berkata, “Wah aku salut ama teteh”.

Dari alun-alun Tuban saya naik Elf menuju Paciran. Berada di dalam kendaraan umum ini merupakan pengalaman pertama juga bagi saya. Kalau angkot penumpang duduknya berhadapan, beda halnya dengan Elf yang duduknya berjajar ke belakang. Ada 3 Baris kursi, paling depan untuk 3 orang sedangkan barisan kedua dan ketiga untuk 4 orang. “penyiksaan’ bagi saya naik transportasi massal ini adalah ‘leg room’-nya sangat sempit sehingga lutut saya tidak bisa lurus dengan sempurna. Menyiasati hal itu tumit saya harus jinjit. Saat penumpang tak sesak barulah saya bisa duduk agak menyamping dan tumit bisa diistirahatkan :) .

Beras dan sayur mayur memiliki lokasi penyimpanan yang jauh lebih luas dari pada tempat duduk penumpang. Bahan pangan tersebut begitu ‘eksklusif’ berada di depan penumpang baris pertama. Saya tersenyum dalam hati dan lagi-lagi mbatin, “Beras dan sayur mayur itu jauh lebih diprioritaskan di banding para bakulnya hehe”.

Tarif Elf dari alun-alun Tuban ke Paciran Rp. 10.000. Saya turun di pertigaan dimana lokasi makam berada, melanjutkan perjalanan ke makamnya naik ojek. Harga yang diberikan pak Darsono sebesar Rp. 5.000 tapi saya meminta pria paruh baya itu untuk menunggu saya hingga kembali ke pertigaan yang sama dengan pembayaran sebesar Rp. 20.000.


Mas Sampurna, Photographer

Pak Darsono, monggo di download

naik ojeknya Pak Darsono

Selama perjalanan pak Darsono tak henti bercerita tentang pengalaman ngojeknya yang telah bertahun-tahun tapi baru kali ini menemui seorang wanita dari Bandung yang berziarah seorang diri. “Wah mbak ini kok nekad ya, kenapa nggak ikut travel  jadi enak kan naik bis AC”, “Saya pengen merasakan nikmatnya perjalanan dengan angkutan umum Pak”. “Tapi itu kan bahaya mbak, apalagi kalo udah malam” lanjut pria yang telah beruban itu dengan nada khawatir, “Insyaallah akan baik-baik saja Pak. Semoga Gusti Allah melindung” jawab saya.

Hanya sekitar 15 menit sampailah kami di makam Sunan Dradjat yang memiliki nama asli Raden Syariffudin atau Raden Qosim. Tampak kerumunan peziarah yang tengah berdoa, mereka semua duduk berkumpul sesuai rombongannya dan saya bergabung dengan salah satu rombongan yang datangnya bersamaan. Berdoa, berzikir mengikuti pembimbing rombongan tersebut. Setelah selesai saya keluar dan disapa oleh penjaga makam, seorang santri atau mungkin ustad di pondok pesantren Sunan Dradjat. “Mbak kalo kemaleman boleh kok bermalam disini, dari pada nanti ada apa-apa dijalan sendirian” begitu pria berpeci itu memberi saran, “Makasih mas, saya masih akan melanjutkan perjalanan menuju makam Sunan Maulana Malik Ibrahin dan Sunan Giri di Gresik” jawab saya dengan halus sambil melirik jam di pergelangan tangan yang berada di angka 4. “Monggo kalo gitu mbak, ati-ati di jalan”. Sebelum menuju ke motor pak Darsono saya memohon ijin untuk diambilkan foto persis di depan pintu masuk makam :) .

Alhamdulillah…

di depan pintu masuk makam Kanjeng Sunan


Sekilas Sejarah Sunan Dradjat

Sekitar abad XV dan XVI Masehi, Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, oleh Sunan Drajat yang bernama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel  mendirikan pesantren yang bernama Dalem Duwur.
Sunan Dradjat dikenal berjiwa sosial sehingga sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Beliau terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial sebelum memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usaha menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, Sunan Drajat memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Fatah Sultan Demak I pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi. Ajarannya tentang pengentasan kemiskinan terabadikan dalam sap tangga-tangga di komplek Makam Sunan Drajat.
Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut;

1) Memangun resep teyasing Sasomo (Kita selalu membuat senang hati orang lain)

2) Jroning suko kudu eling Ian waspodo (Didalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)

3) Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (Dalam perjalanan untuk mencapai cita – cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)

4) Meper Hardaning Pancadriya (Kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

5) Heneng – Hening – Henung (Dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur)

6) Mulyo guno Panca Waktu (Suatu kebahagiaan lahir bathin hanya bisa kita capai dengan sholat lima waktu)

7) Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya¬rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita).

Matur nuwun sanget atas kemurahan hatinya Mas. I am proud 2B a moslem

tangga menuju makam

Sepeninggal Kanjeng Sunan Drajat, tongkat estafet perjuangan diteruskan oleh anak cucunya. Namun seiring bertambahnya waktu, pamor pesantren Sunan Drajatpun memudar dan akhirnya hilang ditelan masa.
Adalah Abdul Ghafur, pria kelahiran Banjaranyar Paciran Lamongan enam puluh tahun yang lalu, tepatnya 12 Pebruari 1949. Selepas menimba ilmu agama (tahun 1965-1975) di beberapa pondok pesantren, mulai dari Pesantren Kramat, Sidogiri, Sarang, Lirboyo, Tretek dan juga Raudlatul Quran, beliau dengan semangat gigih bercita-cita meneruskan perjuangan Sunan Drajat di Banjaranyar.
Melalui pendekatan seni, beliau mengajak agar masyarakat mau kembali menegakkan syariat Islam, lebih-lebih pendekatan kepada para pemuda. Waktu itu, beliau mendirikan klub sepak bola, grup musik, serta perguruan ilmu beladiri yang diberi nama GASPI (Gabungan Silat Pemuda Islam).
Setiap selesai belajar pencak silat, beliau selalu menyelipkan pengajian dan pengarahan-pengarahan tentang ajaran Islam. Dan ketika latihan serta pengajian selesai, anggota GASPI diajak untuk mengambil pasir dari laut, guna keperluan pembangunan pondok pesantren Sunan Drajat. Pasalnya, waktu itu perjuangan Abdul Ghafur sudah mencapai usia sepuluh tahun, dan selama itu pula, beliau tidak mempunyai tempat pengajaran milik sendiri, masih menumpang di tempat warga. Setelah beberapa tahun, akhirnya berjuangan K.H. Abdul Ghafur menuai hasil. Kini, pesantren Sunan Drajat dihuni lebih dari 6000 santri putra dan putri dari berbagai daerah Indonesia dan telah memiliki bermacam-macam fasilitas.

Musholla di komplek makam Sunan Dradjat

Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah

Sistem Pendidikan Dan Pengajaran Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak jauh dari apa yang dipakai oleh para walisongo namun seiring  perkembangan zaman dan keberadaan masyarakat yang kian majemuk, sistem pendidikan dan pola pengajaran yang diterapkan oleh pondok pesantren Sunan Drajat pada khususnya, mengalami pergeseran pola dan metode secara dinamis. Pada rintisan awalnya, sekitar tahun 1977, sistem pendidikan dan pola pengajaran kitab di Pondok Sunan Drajat amat kental, diwarnai oleh dua macam metode pesantren salaf; bandongan dan sorogan.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, Pondok Sunan Drajat menganggap perlu, bahkan harus berbenah diri dan merubah sistem pendidikan serta pola pengajarannya, sebagai respon atas berbagai perubahan akibat laju perkembangan jaman. Dengan prinsip dasar mempertahankan tradisi lama yang baik serta masih relevan dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, Pesantren Sunan Drajat melakukan reorientasi (peninjauan kembali wawasannya guna menentukan sikap) dengan memasukkan tambahan kurikulum pelajaran umum dan sistem pendidikan formal.
Dengan prinsip tersebut, Pesantren Sunan Drajat mencoba menggabungkan antara kebutuhan dunia dan kepentingan akhirat. Dengan tetap menjada tradisi salaf, bandongan, sorogan, serta upaya pengembangan Madrasah Diniyah, Mu’allimin Mu’allimat, juga Musyawwirin khusus santri senior). Di tanah seluas lebih dari 14 ha, kini pesantren itu berdiri megah. Berbagai jenjang pendidikan formalpun didirikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyah, SLTP, SMK dengan berbagai jurusan serta Universitas Islam. Tidak hanya itu, pesantren yang berakar kuat dari kearifan budaya lokal ini membekali wawasan, keterampilan dan penguasaan teknologi kepada para santrinya.
Pondok Sunan Drajat mengajarkan ke-NU-an yang fanatik, sehingga menjadikan kurikulum yang ada didalam pendidikan formalnya menjadi unik. Mulai dari libur pada hari Jum’at, sampai kewajiban menghafal ritual-ritual NU, contohnya tahlil. Pesantren ini mewajibkan hafalan tahlil bagi pelajar tingkat SMP sebagai syarat mengikuti semester, padahal, banyak sekali siswa-siswi sekolah yang tidak tercatat sebagai santri Pondok Sunan Drajat (masyarakat sekitar yang hanya mengikuti kegiatan formal saja).

pesantren Sunan Dradjat

Sarana dan Sumber Pembiayaan
Sarana dan prasarana yang dimiliki Pondok Sunan Drajat hampir terbilang lengkap. Mulai dari gedung sekolah bertingkat, masjid (untuk santri putra) mushalla (untuk santri putri), balai pengobatan, perpustakaan, asrama putra dan putri, asrama guru, kantor agrobisnis, kantor lembaga pengembangan bahasa asing, kantor pelayanan administrasi dan keuangan, lab komputer, lab bahasa, ruang theater, ruang multimedia, MCK, koperasi dan dapur umum. Untuk sarana olahraga pesantren ini memiliki lapangan bola volly, bulu tangkis, basket, footshall, juga lapangan untuk upacara.
Untuk membiayai pembangunan pondok yang pada 19-21 Januari ’09 lalu menjadi tuan rumah bahtsul masail santriwati se Jawa Timur, lembaga ini lebih banyak mengandalkan dari unit usaha. Para santri hanya dikenai biaya syahriah (SPP Pondok) sebesar empat puluh ribu rupiah (tanpa makan), sedang bila menghendaki makan, para santri harus mengeluarkan seratus empat puluh ribu rupiah setiap bulannya.
Sedang bagi santri yang mengikuti kegiatan formal, mereka harus mengeluarkan biaya lebih. Untuk SPP Madrasah Mu’allimin Mu’allimat (setingkat SLTA) sebesar empat puluh lima ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah untuk SPP SMK, untuk tingkat Aliyah sebesar empat puluh lima ribu rupiah, sedang bagi para santri yang masih ditingkat Madrasah Tsanawiyah, mereka tidak dikenai pungutan lebih, karena mendapatkan bantuan dari pemerintah lewat program BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Pembangunan pesantren semi salaf ini memakan biaya 150 miliar rupiah, sebuah angka yang tidak sedikit. Namun, jumlah sebanyak itu dikeluarkan dengan tanpa bantuan masyarakat, karena memang pesantren ini memiliki banyak usaha. Sampai saat ini usaha yang dikelolanya telah mencapai lebih dari sepuluh jenis. Diantaranya; 1) Penanaman mengkudu di tanah seluas 10 ha, 2) Pengembangan jus mengkudu berlabel ‘Sunan’, 3) Pembuatan pupuk majmuk dengan label ‘Guano Phospat’, 4) Pembuatan makanan ternak dan pakan ikan, 5) Pembuatan kemasan air mineral merek ‘Quadrat’, 6) Peternakan bebek pedaging, 7) Penggemukan sapi dan kambing, 8) Kerajinan limbah kulit, 9) Pembuatan madu asma dengan tawon bunga, 10) Membuat minyak kayu putih ‘Bintang Kobra’, 11) Radio dakwah ‘Persada 97,2 FM’, 12) Mendirikan SMESCO Mart, 13) Koperasi dan 14) Baitul mal wa tanwil (BMT) Sunan Drajat. Semua usaha itu dikelola oleh pihak pondok dengan bantuan lembaga yang berkompeten.
Boleh dikata perkembangan Pondok Pesantren Sunan Drajat sangatlah pesat, dalam waktu yang kurang dari empat puluh tahun, sudah mampu meningkatkan berbagai hal. Banyak orang kampung sekitar berkomentar, bahwa kepesatan perkembangan pesantren itu merupakan buah dari pengamalan ilmu dan wasiatnya Kanjeng Sunan Drajat. (sumber : Misykat, Media Informasi Santri dan Masyarakat)

Surabaya Day2 (1): Sunan Bonang-Tuban

‘ng-angkot’ tetep narsis :p

“Mbak kalo mau ke Osowilangon naik angkot apa ya?” tanya saya kepada receptionist Ibis hotel, “wah mending ibu pake taksi aja, susah soalnya” jawab petugas reception wanita, namun petugas lelaki disampingnya langsung menimpali, “bisa kok ibu naik angkot, dari sini nyebrang aja nanti tanya ama orang-orang”. “makasih mas” balas saya sambil tersenyum puas. “Itu jawaban yang ditunggu. “Kalo cuma naik taksi nggak perlu pake nanya kali”, batin saya agak kesal. Traveling naik taksi mengurangi nilai petualangan dan itu bisa masuk ke dalam kategori menurunkan harga diri seorang independent traveler seperti saya ini. Nggak asik!!, kecuali keadaan darurat baru ‘hukumnya’ boleh hahaha.

pak sopir asal Madura yang kuketahui saat ngobrol otw Osowilangon

Langkah kaki saya ayunkan ke seberang hotel, tampak beberapa bis berjejer menunggu penumpang. “Mau kemana mbak?” pertanyaan yang sama diarahkan kepada saya oleh beberapa orang calo, mereka seolah berebut rejeki. Sambil tersenyum saya hanya berucap satu kata “osowilangon”, “oh naik len kuning aja mbak didepan sana” serentak mereka menjawab pertanyaan saya. “Wah kompak amat yak kayak mau paduan suara hahaha” batin saya lagi.

Melakukan perjalanan sebagai solo traveler ternyata banyak bicara dalam hati alias ‘mbatin’. Biasanya ada Rey sebagai lawan bicara hikz, sekarang sendiri. “Yah SENDIRI, TITIK” batin saya lagi dan lagi. Oya angkot di Surabaya lebih familiar dengan sebutan ‘LEN’. Awalnya saya kira len adalah garis batas pemberhentian angkotnya hehe.

Terlihat tak jauh di depan jejeran bis ada kendaraan berbadan ‘kotak memanjang’ berwarna kuning yang sedang ‘ngetem’ menunggu penumpang, hmmm…. penumpangnya masih nihil. Yeeeees jadi saya bisa memilih duduk di sebelah pak sopir. “Osowilangon pak?” tanya saya kepada pria setengah baya berkulit legam dibalik kemudi. “Iya mbak”. Saya langsung membuka pintu dan duduk disampingnya.

Awalnya rute saya di hari kedua ini adalah : Gresik-Lamongan-Tuban-Surabaya, namun sesuai saran Septy akhirnya rute saya rubah menjadi : Tuban-Lamongan-Gresik-Surabaya. Hal itu dengan pertimbangan menempuh jarak terjauh terlebih dahulu agar saat malam tiba saya telah berada di kota Gresik yang tak jauh dari Surabaya. Good idea, Thanks Septy.

Sejak membuat itinerary saya selalu berkonsultasi dengan Septy. Dia saya pilih karena kami dulu berteman saat masih aktif sebagai atlit pingpong, walau tak terlalu akrab karena saya dikenal sangat judes jadi dia lebih dekat dengan adik saya yang memiliki sifat terbalik dengan kakaknya hehe. Selain itu Septy adalah salah satu pembaca setia blog ini sehingga tahu banyak tentang gaya traveling saya. Pemilihan hotel dia sarankan atas dasar jarak terdekat dengan public transportation. Dia tahu betul bahwa kedatangan saya ke Surabaya bukan untuk shopping sehingga bukan hotel yang dekat mall yang direkomendasikan atau bukan juga hotel bintang 5 karena buat kami traveler hal itu nggak penting. Dan hari gini masih mikir belanja saat traveling? nggak banget deh buat saya. Sejak ‘menyembuhkan’ diri dari penyakit shopaholic saya anti ng-mall kalau nggak ada niat membeli barang yang dibutuhkan. Rasanya sudah cukup pengalaman shopping di beberapa pusat mode dunia. London, Milan, Paris, Singapura, Hongkong, China telah saya jajal fashion districtnya mosok ke Surabaya aja mau blonjo sih. Tapi satu yang belum kesampaian, pengen banget someday nyicipi belanja atau sekedar window shopping di Rodeo Drives, Los Angeles. Kebayang banget saat Julia Robert nenteng tas belanjaan di film Pretty Women. Rodeo Drives disebut  Golden Triangle yang dikenal sebagai “surga” bagi para shopaholic dunia, hoaaaaaa pengeeeeeeeeen (baru sekedar mimpi).

Duh kok malah ngelantur kesana kemari yak, oke deh kembali ke…. Sunan Bonang. Wisata rohani yang saya jalani dengan transportasi ‘ngecer’ sangat tak biasa dilakukan oleh peziarah lainnya. Hal tersebut saya ketahui dari obrolan dengan beberapa orang yang saya temui. Mereka refleks terbelalak saat mengetahui saya pergi dari Bandung seorang diri dan menggunakan transportasi umum.

papan petunjuk @osowilangon

pilah-pilih bis menuju Tuban

Tarif Len kuning rute JMP-Osowilangon sebesar Rp. 4.000, waktu tempuhnya sekitar 60 menit. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 09.25 saat saya menaiki bis antar kota di Osowilangon. Bis ekonomi tanpa AC dengan ‘body’ yang tidak lagi mulus alias banyak sekali dempul tertempel di sekeliling badan panjangnya. Tempat duduk dibelakang supir untuk 3 orang sedangkan di sisi lainnya untuk 2 orang. Kursi sangat jauh dari nyaman, joknya sobek-sobek dan sandarannya tak bisa direbahkan. Yang paling membedakan dengan public transportation negara maju adalah ketidakberadaan sabuk pengaman di masing-masing kursinya. Ah….mendadak ingatan saya langsung terbang ke London, disana bis umum dibuat seaman mungkin. Ada pengukur suhu ruangan, pengukur suhu luar ruangan, seat belt ditiap kursinya, microphone untuk si sopir bicara kepada penumpang, bahkan sebagian lainnya ada yang menyediakan hand sanitizer. Pokoknya komplit plit deh hehehe.

Saya memilih duduk persis di kursi belakang sopir, 2 tempat telah diduduki oleh seorang ibu dengan 2 orang anaknya, seorang baby dan kakaknya berusia 10 tahun. Excel yang berumur 6 bulan sepanjang perjalanan selalu melihat kearah saya yang akhirnya kami bersenda gurau sebelum dia tertidur di gendongan sang bunda. Jadi inget saat Rey seusianya, selalu lelap dalam pangkuan saya :) .

bis yg membawaku ke Tuban

Baby Excel selalu melihat ke arahku hehe

Terminal Bunder Gresik

salah satu makanan yang dijual dalam bis

Perjalanan menuju Tuban dengan bis ekonomi seharga Rp. 14.000 tentu tak bisa dikatakan nyaman tapi itu kembali pada diri kita. Apakah  ingin membuatnya makin tak nyaman atau sebaliknya. Saya memilih pilihan kedua, sepanjang perjalanan saya asik mengamati beragam orang yang naik turun bis. Ada penumpang, pengamen dan penjual makanan. Yang menarik, setiap bis akan berhenti terlihat begitu banyak orang yang berlari kencang layaknya sprinter yang berebut mencapai garis finish hehehe. Mereka adalah para pengamen, penjual makanan, tukang ojek, tukang becak dan tukang parkir yang merangkap calo. Inilah realita, keadaan yang mungkin tak menarik untuk diekspos bahkan oleh para pembuat sinetron. Mereka lebih suka menjual mimpi tentang keadaan ekonomi masyarakat kita yang sangat mapan dengan gambaran kemewahan.

Saya mendapat pembelajaran dari perjalanan ini, belum pernah sekalipun saya naik bis antar kota non AC. Kota di Jawa timur kaya akan terik matahari, keringat tak terbendung membasahi baju tapi saya tak peduli lagi karena itu hanya resiko dari pilihan moda transportasi. Berbeda dengan keringat orang-orang yang saya lihat, mereka bermandi peluh untuk mencari nafkah. Saya jadi mengumpat diri sendiri karena bila AC  di ruang kerja mati langsung ‘teriak’ tak nyaman dan berdalih kondisi itu mengganggu produktivitas kerja. “Sungguh payah kamu Adel” batin saya. “Lihat orang-orang itu, mereka mungkin jauh lebih mulia di hadapan Tuhan karena apa yang diusahakan untuk keluarganya demikian beratnya, kamu hanya duduk manis dibelakang komputer dengan ruangan AC lengkap dengan TV bahkan kulkas” batin saya lagi. Aaah…..sungguh saya malu, malu kepada mereka.

perahu2 nelayan tampak dari dalam angkot

kali ini duduk di belakang @len kuning Tuban

penjual buah siwalan

alun2 Tuban

Pukul 12.00 bis sampai di terminal lama kota Tuban setelah sebelumnya berhenti di terminal Bunder dan Lamongan. Dari terminal lama saya naik len warna kuning ke arah alun-alun dimana makam sunan Bonang tak jauh berada. Tarif len seharga Rp. 2.500. Sebelum masuk ke komplek makam saya makan bakso dan buah siwalan di depan masjid Agung Tuban.

makam Sunan Bonang

damai….

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang Kabupaten Rembang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya. Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad. (sumber : Wikipedia).

senyum dulu ah :)

Sebagai seorang mualaf, begitu besar keinginan saya mengetahui sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia. Hal itu makin kuat mengingat rencana tahun depan bersama Reyhan akan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ziarah yang saya lakukan bukan untuk memohon ‘sesuatu’ tapi dalam rangka turut mendoakan Wali Allah yang insyaallah telah berada di tempat terbaik di sisiNya. Selain itu saya berharap dengan aktivitas ini makin mempertebal keimanan guna mempersiapkan kematian sehingga pada saatnya nanti saya bisa menghadap Allah SWT dengan bekal yang cukup, Amin…..

Surabaya Day 1 : Manusia hanya mampu berencana

narsisnya genk ijo

Satu tiket pesawat Air Asia promo Bandung-Surabaya yang dibeli pada tanggal 12 Desember 2011 lalu terpaksa direlakan tak terpakai. Reyhan harus bergabung dengan teman sekelas dan para guru untuk farewell di Ciateur. Yah… manusia memang hanya mampu berencana, Tuhan jualah yang menentukan.

“Mami pergi sendiri aja ke Surabaya, Rey nggak mau ikut karena pengen perpisahan dengan temen-temen” Tegas Rey saat saya mengingatkan dia tentang rencana 5 bulan lalu untuk melakukan ziarah ke makam walisongo sebelum kami ke Mekkah tahun depan (insyaallah). Mendengar kalimat Rey tadi saya hanya terdiam, beberapa saat kemudian dengan lirih saya menimpali, “mami sedih sih harus pergi sendiri karena perjalanan ini penting buat kita berdua. Mengetahui sejarah penyebaran agama Islam dengan cara yang lebih asik. Tapi ya udah, mami akan lebih sedih kalo Rey cemberut nanti selama perjalanan di Surabaya”. Rey banyak diam selama diskusi, saya tahu itu tak mudah karena awalnya sempat mengalah, dengan suara tersedak menahan tangis dia berkata, “Mami bilang aja ama miss Tri (Form Teacher Primary 6) kalo Rey nggak ikut. Rey nggak mau bilang karena udah telanjur bilang bisa ikut”. Hmm… mana mungkin saya memaksa Rey untuk melakukan perjalanan sementara hatinya ingin bersama teman dan guru yang telah 5 tahun bersama sejak dia primary2 hingga primary6.

merelakan tiket Rey ‘angus’

farewell schedule-nya Reyhan hikz. “kenapa harus bentrok sih”

Itulah salah satu resiko membeli tiket promo, harga yang saya dapat untuk penerbangan BDO-SUB adalah Rp. 109.000. Tiket ini tak bisa di refund bila penumpang berhalangan, bisa saja saya ganti tanggal tapi pasti nombok sesuai harga terbaru dan itu bukan pilihan yang saya ambil. Lebih baik saya ‘hanguskan’ dan next time berburu lagi hehe.

Ini adalah perjalanan saya yang pertama sebagai solo traveler, walau hati tak sepenuhnya senang tapi saya tetap bertekad untuk mendapatkan ‘sesuatu’ agar tak semakin merasa rugi setelah tiket pesawat Rey amblas. Itinerary yang telah dibuat jauh hari akan saya jalani. Destinasi utama adalah ziarah ke makam walisongo di Jawa Timur yaitu : Sunan Bonang di Tuban, Sunan Dradjat di Lamongan, Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Sunan Ampel di Surabaya. Selain wisata rohani saya juga akan ke jembatan Suramadu dan icip-icip beberapa makanan ‘sohor’ yang ada di Surabaya.

counter fee : “brasa dicopet” :(

airport tax Husein Sastranegara

Jumat sore tanggal 25 Mei saya menuju bandara Husein Sastranegara yang letaknya tak jauh dari kantor. Hanya perlu sekitar 5 menit perjalanan. Tepat di depan konter Air Asia saya langsung disambut petugas  dengan kalimat, “hanya 1 menit lagi ibu telat untuk cek in”. “Maaf mas saya lupa nggak web cek in karena agak repot kerjaan di kantor hari ini” tukas saya menimpali perkataan si petugas. Ternyata ada counter fee sebesar Rp. 30.000/orang bagi penumpang yang melakukan cek in di konter. Walah kok malah amat yak batin saya, selama ini belum pernah sih cek in di konter jadi agak enggan mengeluarkan uang sejumlah itu hanya untuk membayar hal yang ‘nggak penting’.

Setelah menerima boarding pass saya menuju konter pembayaran airport tax. Bandara Husein pajaknya sebesar Rp. 25.000. Yah…. inilah Indonesia, bayar pajak sana sini dengan tujuan untuk pembangunan tapi akhirnya ‘dimakan’ oleh oknum-oknum tak berperikemanusiaan huh. Tapi sebagai warga negara yang taat saya tetap kok mbayar (walau merasa terpaksa :( )

tiket bis Damri Bandara-Bungurasih

Ibis Hotel

Penerbangan selama 65 menit alhamdulillah tak terkendala apapun,  saya langsung bergegas menuju pintu keluar setiba di Juanda Airport. Hal ini bisa dengan cepat saya lakukan karena tak ada barang masuk ke bagasi, saya hanya membawa tas ransel beroda dan handbag. Bus Damri seharga Rp. 15.000 dengan tujuan terminal Bungurasih adalah transportasi yang saya pilih. Jauh-jauh hari saya memang berniat menjajal berbagai transportasi publik yang ada disini. Di Bungur saya lanjut naik bus no P5 jurusan JMP. Tarifnya Rp. 4.000, duh senangnyaaaaa……. akhirnya saya bisa juga menikmati transportasi massal yang jauh dari kondisi nyaman itu dan jangan sekali-kali membandingkan dengan public transportation di negara lain yang telah saya naiki karena pasti akan menghasilkan hujatan akan kondisi negri ini :( .

Atas saran Septy teman pingpong yang tinggal di Surabaya akhirnya saya menginap di Hotel Ibis JMP karena dia tahu itinerary dan niat ngompreng saya menjelajah beberapa kota. Pilihan yang tepat, Ibis berada persis di seberang jalan pemberhentian bis yang tadi saya naiki (girang banget deh).

Dinner @Loving Hut

sebagian pesanan kami. nyam nyam….

Loving Hut Menu

Sekitar pukul 20.30 saya dijemput oleh beberapa orang  teman. Bersama Retha, Nita, Amudi, Tabah, dan mas Imam kami langsung menuju Loving hut vegetarian Resto yang berada di jalan Sumbawa no 37. Loving Hut adalah salah satu resto yang cukup ternama di dunia. Tercatat telah berdiri 158 gerai di 23 negara. Sebelumnya saya memang meminta mereka untuk membawa saya ke veggie resto karena saya tidak menyantap makanan berbahan dasar daging merah dan sekaligus survey vegetarian food untuk nantinya ingin membuka usaha sejenis di Bandung (dasar otak bisnis mulu hehe).

ga peduli mobil lewat yg penting eksiiiiis haha

ndlosor :D

Mas Imam, ‘koki’-nya TNI AL Surabaya hehe

Perut telah terisi penuh kami meluncur ke Suramadu. Jembatan ini tak asing bagi saya karena telah beberapa kali melewatinya bahkan sebelum dioperasikan secara umum kami pegawai Jasa Marga yang saat itu tengah melakukan kunjungan ke Surabaya telah menjajalnya. Nah…. mulailah genk ijo Surabaya plus saya ‘anggota genk dari Bandung’ bermain dengan kamera. Jeprat-jepret secara bergantian baik menggunakan kamera digital maupun kamera yang tertanam dalam ponsel masing-masing. Letih nyaris tak terasa karena keindahan jembatan sepanjang 5.438 Km (terpanjang di Indonesia) yang menghubungkan kota Surabaya dan Madura ini sangat dramatis dengan lampu yang berganti-ganti warna. Tarif masuk Rp. 60.000/PP bukan masalah demi mendapat pengalaman seolah di Golden gate Amerika hahaha (lebaynya kumat).

Menjelang pertengahan malam saya diantar pulang ke hotel, kesan tak terkatakan tentang malam itu. Genk ijo never die dan kami berkomitmen untuk tetap berkreasi di dapur sesuai sejarah ‘terbentuknya’ genk ini. Luv you all guys :) .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 343 other followers