Jelajah Nusantara (1) : Wisata Religi ke Jawa Tengah

leyeh-leyeh di teras Masjid Agung Demak

Beberapa tahun ke depan Rey yang berencana melanjutkan SMA di Selandia Baru dan tinggal bersama papinya membuat saya ingin menanamkan jiwa nasionalisme sebelum kepindahannya, dengan ‘cara saya’. Yah….. cara saya adalah traveling jelajah nusantara :) .

Agenda jelajah nusantara pertama kami sebenarnya ke Surabaya yang akhirnya saya lakukan seorang diri karena saat itu Rey memilih menghadiri perpisahan dengan teman-teman primary Al Irsyad Satya Islamic School Bandung di Ciateur. Walau dengan berat hati merelakan tiket pesawat yang telah dibeli hangus, saya tak kuasa memaksa Rey untuk turut melakukan wisata religi ke makam Walisongo di Jawa Timur.

Seperti biasa, Adel selalu OGI (ogah rugi) mengenai tiket pesawat. Air Asia promo destinasi baru Jakarta-Semarang seharga Rp.50.000/person (one way) jauh lebih murah di banding bis malam sekalipun rute Bandung-Semarang (tersenyum puas).

Jauh-jauh hari saya telah booking penginapan di Simpang Lima Residence untuk 2 malam yaitu Sabtu dan Minggu tanggal 13-14 Oktober 2012.Pilihan ini saya ambil setelah membaca banyak ulasan yang sangat baik di trip advisor. Harga kamar deluxe Rp. 320.000 include breakfast yang menurut kami sangat layak. Fasilitas lain penginapan ini adalah antar-jemput dari dan ke bandara.

rey makan 2 mangkuk soto ayam campur

Breakfast @RM. Soto Bangkong Semarang

Setelah titip koper, saya dan Rey yang dijemput oleh salah seorang sahabat saya (Cudhori) di penginapan langsung mencari sarapan mengingat waktu telah menunjukkan pukul 7 lewat beberapa menit. “Mami, laper nih”, rengek Rey sambil memegang perutnya. “Ok sayang. mau makan apa?”, tanya saya. “Pokoknya yang seger-seger deh”, timpal Rey cepat menggambarkan isi perutnya yang kosong.

Mendengar percakapan kami Ndori teman SMP saya saat sekolah di Kudus langsung mengajak kami makan di Soto Bangkong. Alhamdulillah Rey sangat lahap dan menghabiskan 2 mangkuk soto ayam campur. “Doyan atau rakus?” canda saya. “Enak dan kebetulan Rey laper banget” jawab anak semata wayang itu sambil nyengir.

nampang dululah haha

Perut telah terisi kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Demak. Ndori di balik kemudi bercerita tentang pertemanan saya dengannya kepada Rey. Tak sampai 1 jam kami telah tiba di Masjid Agung Demak. “Waaaah adem ya saat masuk masjidnya, padahal tadi diluar panas banget”, begitu kesan Rey saat memasuki masjid yang terletak di alun-alun kota Wali ini. Sayapun menceritakan beberapa kisah tentang sejarah berdirinya masjid ini dan peran Sunan Kalijogo dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Memasuki kawasan masjid kami melewati pintu masuk utama yang bernama Lawang Bhledeg yang dipercaya mampu menangkal petir. Pintu ini bertuliskan Nogo Mulat Saliro Wani yaitu bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H. Serambi di bagian depan masjid berupa ruang terbuka tanpa dinding dan ruangan dalam. Ada juga tempat khusus jamaah wanita di sebelah kiri yang disebut Pawestren, dibangun pada tahun 1866 M.

situs kolam wudhu

ini dia Ndori yang setia mengantar kami

Masjid Agung Demak berdiri di tengah kota menghadap alun-alun yang merupakan pusat kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Kota Demak sendiri saat itu seakan ingin meyatukan kawasan masjid, kraton dan sarana-sarana pendukungnya termasuk alun-alun di bagian tengah. Lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain sekaligus sebagai lambang 5 rukun Islam yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sementara enam jendelanya melambangkan 6 rukun iman yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada kitab-Nya, percaya kepada malaikat-Nya, percaya datangnya kiamat, serta percaya kepada qada dan qadar.

Rey dg latar saka tatal @Masjid Agung Demak

Di samping masjid ada ruangan kecil berfungsi sebagai museum penyimpan benda-benda bersejarah. Di sini juga tersimpan bekas tiang soko guru dan sirap karena masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi sebagian besar masih asli.  Ada pula kentongan  kuno. Di bagian belakang masjid terdapat makam raja-raja kerajaan Bintoro Demak, termasuk makam Raden Fatah. Ada juga kitab tafsir  Alquran hasil tulisan tangan Sunan Bonang yang tersimpan dalam lemari kaca.

Arkeologis Masjid Agung Demak

Di Masjid Agung Demak terdapat benda-benda arkeologi yang  bernilai sejarah tinggi. Benda-benda itu adalah :

Soko Majapahit, tiang  berjumlah 8 buah terletak di serambi masjid. Soko ini merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi yang diberikan kepada Raden Fatah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan untuk jamaah wanita. Dibangun menggunakan konstruksi kayu jati beratap limasan berupa sirap atau atap dari kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai berukuran 15 x 7,30 meter. Pawestren dibuat dengan bentuk dan motif ukiran maksurah dengan nilai estetika yang unik dan indah berukirkan tulisan Arab yang intinya mengagungkan Tuhan. Anda dpat menikmatinya keindahan ini yang mendominasi ruang dalam masjid. Prasasti di dalam maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Surya Majapahit, yaitu gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka atau 1479 M.

Prasasti Bulus, di sini  terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Disimpulkan bahwa Masjid Agung Demak berdiri tahun 1401 Saka.

Dampar Kencono, merupakan mimbar untuk khotbah. Benda ini merupakan peninggalan Majapahit sebagai hadiah dari Prabu Brawijaya ke V untuk Raden Fatah Sultan Demak I.

Soko Tatal atau Soko Guru, jumlahnya ada 4 berupa tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudlu, dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga saat ini situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Saat itu kolam air ini yang menghubungkan bagian luar dan dalam masjid. Selain sebagai sarana untuk menyucikan diri, juga mengandung perlambang agar masyarakat selalu membersihkan diri dari berbagai kotoran yang menempel dalam diri dan hati.

Menara Masjid Agung Demak, merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat adzan yang didirikan dengan konstruksi baja. Ketika dibangun, masjid ini tidak memiliki menara seperti kondisi sekarang. Menurut cerita yang beredar, tidak dibangunnya menara ketika itu adalah untuk menghormati masyarakat sekitar masjid yang mayoritas masih beragama Hindu dan Budha. Dalam menyebarkan ajaran Islam, para wali ini sangat toleran terhadap agama Hindu dan Budha dan cara berdakwah pun tidak meninggalkan budaya lokal yang berkembang. Tidak ada paksaan, apalagi kekerasan dalam menyebarkan ajaran Islam. Pola dakwah yang digunakan para wali adalah kerja keras, ketekunan, keikhlasan, dan kasih sayang. Oleh karena itu, para wali ini mendapat simpati luar biasa dari masyarakat Jawa. Awal abad ke-15 mayoritas penduduk Jawa masih memeluk agama Hindu dan Budha tetapi seabad kemudian mayoritas penduduk di Pulau Jawa telah menjadi pemeluk Islam.  Saat itu Masjid Agung Demak menjadi pusat keislamannya dan tak pernah sepi dari jamaah. Masjid Agung Demak menjadi  masjid paling tua di Pulau Jawa dan digarap oleh 9 wali (Wali Songo) bersama-sama masyarakat Islam setempat. Kesembilan wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. (sumber : Indonesia Travel)

lorong menuju makam Sunan Kalijaga

@makam Sunan Kalijaga

mengenang pelajaran honocoroko @pintu masuk makam Sunan Kalijaga

Tak lama di dalam masjid kami langsung berziarah ke makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Delanggu. Jaraknya sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak.

@makam Sunan Kudus

peziarah di makam Sunan Kudus

Sinar mentari makin terasa garang di wajah kami yang terbiasa dengan udara sejuk kawasan perumahan dimana kami tinggal yaitu kotabaru parahyangan Padalarang Bandung. Tak terpengaruh oleh terik matahari, perjalanan dilanjutkan menuju masjid Menara Kudus dimana terdapat makam Sunan Kudus. (Sejarah masjid ini telah ditulis pada perjalanan saya ke Kudus tahun lalu).

@masjid Menara Kudus

lunch @wm. Bariklana milik kakakku

harus menduplikasi garang asem ayam buatan kakakku ini

Untuk menghemat waktu mengingat saya memiliki janji memberikan tutorial kreasi syal, kami tidak mencari makan siang di tempat lain tapi di Warung Makan Bariklana milik kakak saya yang lokasinya tak jauh dari masjid menara. Rey suka dengan garang asem ayam buatan budhenya dan saya diwajibkan untuk bisa menduplikasi masakan tersebut nanti di rumah (Hmm….begitulah kelakuan anak saya).

Rey sempet mual saat di Omah mode

Peluh membasahi pakaian kami namun waktu tak boleh terbuang sia-sia. Ndori masih berada di balik kemudi dengan setia mengantar saya dan Rey menuju Colo sebagai destinasi terakhir ziarah ke makam Sunan Muria.

nungguin ojek

menuju makam Sunan Muria

komplek makam Sunan Muria

pecel pakis fav aku @Colo

Alhamdulillah cuaca di Colo jauh lebih sejuk di banding pusat kota Kudus. Walau begitu saya memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju komplek makam Sunan Muria mengingat waktu yang tidak memadai bila kami harus berjalan kaki menapaki anak tangga sejauh kurang lebih 1,5 km..

Ojek dengan tarif Rp 8000,- (one way) kami di antar menuju lokasi makam Sunan Muria. Selama perjalanan dengan ojek tampak  panorama indah alam pegunungan Muria yang memiliki ketinggian 1.602 meter dari permukaan laut.

Seperti terdapat di makam-makam walisongo Jawa Timur, saya melihat berderet pedagang souvenir di kiri kanan tangga.

Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.

Nama Sunan Muria sendiri  berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus Jawa Tengah tempat beliau dimakamkan.

@Omah Mode Kudus

deluxe room simpang 5 residence

Usai berziarah kami langsung menuju Omah Mode di kota Kudus, disana telah menunggu beberapa teman dimana saya akan memberikan tutorial kreasi syal. Tutorial rampung saat adzan maghrib dan tak lama saya dan Reyhan kembali ke Semarang yang kali ini bersama dengan Anita dan keluarganya yang hendak berakhir pekan di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

@lawang sewu Semarang

@lawang sewu

@lawang sewu

Esok harinya di Semarang kami jalan-jalan naik angkutan umum dan becak menuju beberapa lokasi diantaranya Paragon Mall, Citraland Mall, dan Lawang Sewu. Tempat terakhir adalah destinasi yang sangat Rey inginkan karena terinspirasi acara dunia lain di salah satu stasiun TV.

ruangan di bawah atap lawang sewu yg konon biasa digunakan sbg tempat olahraga bulutangkis

kagum dg ide wong londo yg bikin lapangan badminton di bawah atap

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda.

narsis dulu di salah satu lorong gedung lawang sewu

di ruang eksekusi (pada masa penjajahan)

‘pose’ as seen on TV (dunia lain)

Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu. (sumber : seputar semarang.com)

Sore hari selepas ashar saya  memberikan tutorial kreasi syal kepada beberapa teman lalu makan malam di salah satu food court. “Rawonnya lebih enak bikinan nenek”, gumam Rey mengomentari hidangan di hadapannya. Alhasil sayur kuah hitam itu berkurang hanya sedikit dan saya tak bisa membantu Rey menghabiskannya karena nggak doyan daging.

kereta api di halaman depan lawang sewu

menyusuri ruang bawah tanah lawang sewu

penjara berdiri @lawang sewu semarang

cuma akting @toilet pria peninggalan belanda yg masih berfungsi

toilet asli peninggalan belanda ini cukup bersih dan masih bisa digunakan oleh pengunjung

Senangnya plesir ke Semarang dan Kudus salah satunya karena memiliki banyak teman. Masa kecil hingga remaja saya dihabiskan di 2 kota ini. Rey akhirnya telah menginjakkan kaki dimana emaknya dulu tinggal.

dinner dg sahabat

Hari berikutnya pukul 6 pagi saya harus menuju bandara untuk kembali ke Bandung via Jakarta. Kali ini tidak menggunakan fasilitas antar dari hotel karena mbak Trisni dan mbak Ani yang akan mengantar kami. Duh…senangnya, selain diantar kami juga dibawakan bekal sarapan risoles buatan mbak Trisni sendiri. Matur nuwun sanget mbakyu :) .

Perjalanan ini seperti ditulis diatas untuk mengenalkan Rey akan keberagaman Indonesia baik mengenai geografi, sejarah juga mengasah jiwa nasionalisme yang kadang surut dalam dirinya ketika melihat begitu banyak ‘hal negatif’ yang terjadi di negri ini. Dia sering melakukan perbandingan kondisi di negri sendiri dengan apa yang dia alami saat kami traveling ke manca negara.

Sebagai seorang mualaf dengan segala keterbatasan ilmu, saya ingin Rey mendapat pengetahuan tentang Islam lebih dari maminya. Berharap juga perjalanan ini dapat mempertebal keimanan kami, menghargai/toleransi terhadap umat beragama lain, tidak mudah menghakimi atau merasa paling benar dengan sesama muslim.

“Selalu ada pembelajaran dari setiap perjalanan”

Special 4 U, Isabella…..

Isabel….kamu adalah salah satu teman terbaik saya di Kudus 23 tahun lalu. Teringatkah  setiap hari kamu menjemput dan mengantar saya berangkat dan pulang sekolah. Saya duduk di boncengan dan kamu dengan riangnya terus mengayuh pedal agar 2 buah roda sepeda mungil itu terus menggelinding mengantar kita sampai pintu gerbang. Di dalam kelas  kita duduk bersebelahan dengan meja yang sama. Kamu tomboy dan saya super jutek tapi kita sama sekali nggak pernah bertengkar. Teringat jelas tak ada ‘mahluk bernama lelaki’ yang bisa mendekat ya hahaha. Guru-guru pun sering menjadi obyek keisengan kita. Aaaarghh…….masa itu memang sangat berkesan. Saat terdengar tanda jam sekolah usai kitapun bersama lagi, sepeda mini itu menjadi saksi kebersamaan kita setiap hari, saksi betapa baiknya kamu pada saya yang rela menggenjot beban 2 kali lipat akibat  keberadaan ‘body macho’ saya saat itu hahaha. Thanks a lot friend.

'Geng' Adel-Farida-Helma-Maria akan lengkap dengan adanya kamu Isabela. Sehingga kita akan membentuk bintang ini dalam pertemanan

Saat reuni kemarin, saya-Farida-Helma dan Maria sangat merindukanmu. Kami ingat bagaimana cerewetnya kamu, cara jalan kamu, cara tertawamu dan tentu cara bersepeda kamu wkwkwk. Dan saya juga teringat ketika menginap di rumahmu, kita habiskan malam untuk bercerita dan bersenda-gurau. Hanya kamu yang mampu membuat mulut saya mengeluarkan suara tawa.

Sungguh sekarang saya lega telah ‘menemukanmu’, betapa senangnya mengetahui keberadaanmu dan mendengar suara riangmu lagi. Bel…..walau kini kita akan berbeda kewarganegaraan karena kamu memutuskan menjadi ‘Malaysian’, its OK (Kok seperti terinspirasi lagunya Amy Search hehe). Persahabatan kita jangan pernah berakhir ya, keep contact and hopeful someday we’ll having fun together. My best regard for your family especially your hubby and children. I luv and Miss you always…..(Big hug).

Kutipan SMS darimu, Bel… (22 Sept 2011 pukul 16.00 WIB) : “thanks. dont forget story you jatuh dari spd, time kita berangkat or kita runway dari upacara bendera n dikejar mr. Slamet guru sejarah kita haha. I still n always remember”

Kudus-Semarang : Day 3-4 (Napak Tilas : waktu terasa begitu cepat)

keliling kota by.Becak

“Rey, liburan lebaran kita ke Siem Reap yuk”, “emang ada apa disana mami?”, “Disana ada Angkor Wat atau Candi Angkor yang terkenal kayak Candi Borobudur, trus ada tempat yang banyak tengkorak kepala manusia lho. Karena dulu tempat itu buat pembantaian jaman Rezim Khmer Merah”, “Waaaah….mau mau mami, Rey pengen liat tengkoraknya”. Hmmm…..itulah obrolan antara saya dengan Rey tentang rencana liburan lebaran tahun ini, tapi rencana tinggal rencana karena akhirnya saya memutuskan pergi ke Kudus untuk reuni dengan teman-teman SMP Negeri 3 Kudus.

Keputusan menginjakkan kaki kembali di Kudus dengan pertimbangan Siem Reap bisa didatangi kapanpun juga kami mau, tapi berkumpul teman-teman lama tentu tidak bisa setiap saat. Mengetahui perubahan rencana itu Rey mengamini dengan syarat dia nggak mau diajak, “Rey nggak mau ikut, karena Kudus panas. Rey nanti BT kalo harus di hotel terus. Kan mami pasti sibuk ama temen-temen mami”, begitu anak semata wayang itu memberi alasan ketidak-inginannya untuk ikut. “Rey mau liburan di rumah nenek aja ya mami”, dan saya mengiyakan permintaannya itu.

Hari ketiga di Kudus, tepatnya acara reuni itu dilaksanakan. Teteeeeep dengan prinsip OGI (ogah rugi waktu) sebelum menghadiri acara yang dijadwalkan yaitu jam 10.00, saya  keluar hotel sejak jam 07.00 dan langsung sewa becak untuk keliling tempat-tempat yang kemarin belum saya kunjungi. Tujuan pertama ke Masjid Menara Kudus, sebenarnya di hari pertama saya sudah kesini saat mampir ke rumah kakak yang letaknya tidak jauh dari masjid yang berdiri tahun 956 Hijriah itu.

@depan Masjid Menara Kudus, diserbu santri untuk foto bareng hehe

@Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa,  menurut cerita yang berkembang asal muasal nama tersebut karena Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) menancapkan batu yang beliau bawa dari Baitul Maqdis di Palestina (yang kini menjadi Masjid Al-Aqsa) pada pembangunan Masjid Menara ini. Namun seiring berjalannya waktu justru masjid ini populer dengan nama Masjid Menara Kudus sebab arsiteksurnya yang berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. hal itu dilakukan Sunan yang wafat tahun 1550 dalam upaya penyebaran agama islam dengan penggabungan kebudayaan Islam-Hindu yang saat itu dianut mayoritas penduduk kota terkecil di Jawa Tengah ini. Mempertegas hal itu sang sunan juga berpesan agar saat Idul Adha masyarakat Kudus tidak menyembelih Sapi dan digantikan kerbau untuk menghargai penganut agama Hindu. Dan hal tersebut terus berlangsung hingga kini, sulit ditemui makanan berbahan dasar daging sapi di kota seluas 10,47 km2 ini.

Di dalam komplek masjid Menara itulah jasad Sunan Kudus disemayamkan. Makamnya selalu ramai dikunjungi para peziarah seperti saat saya datang juga telah tampak ratusan peziarah dari berbagai daerah, terlihat dari Nomor Polisi kendaraan yang parkir. Dan surprise…….saya langsung dikeroyok para santri yang usai berziarah untuk berfoto bareng. “OMG….” batin saya. Tak kuasa menolak karena badan saya langsung dikerumuni anak-anak pesantren tersebut dan secara refleks meraka jeprat-jepret sedangkan saya tak bisa menahan tawa atas kejadian ini. Kejadian serupa juga sebenarnya saya alami saat di Colo, beberapa anak muda mohon ijin berfoto bareng. Wkwkwkwk…..saya jadi bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang aneh dengan saya??!!.

Setelah berhasil lepas dari kerumunan ‘massa’, saya melanjutkan perjalanan tentunya dengan mas becak yang setia hehe. Menuju toko jenang Sinar 33,  jenang adalah makanan khas Kudus sejenis dodol garut tapi keduanya saya nggak doyan :(. Perjalanan dengan becak membuat saya lebih relax dan bisa mengambil gambar sesuka hati hanya dengan memberi tanda pada si mas becak untuk berhenti sebentar. Toko jenang tersebut terletak di jalan Sunan Muria no 33 dan karenanya  melewati simpang 7. Saya minta becak berhenti sebentar di depan kantor Bupati, teringat dulu kami para atlet yang mewakili Kota Kretek ini dilepas bapak Bupati di pendopo bila hendak bertanding pada event seperti Porseni atau Kejurda Jateng.

lenthog, Makanan khas favorit

makan lenthog aja tetep kemayu :)

Urusan oleh-oleh beres saya kangen makan lenthog. Duh….nggak kebayang deh kok dulu saya bisa menyantap makanan sejenis lontong sayur ini sebanyak 4 piring xixixi. Sekarang saya pesan setengah porsi aja nggak abis jadi meminta maaf kepada penjualnya bukan karena tidak enak tapi karena perut sudah terasa penuh sesak hikz.

tampak Tugu Identitas dengan latar bangunan belum jadi (rencana : Hypermart). Kontras dengan mbok bakul gendong di depannya

Kendaraan roda 3 yang saya tumpangi melaju kembali dengan rytme yang masih sama dengan ‘genjotan’ awal, itu pertanda stamina si mas becak cukup prima :D. Sekarang saya menuju ke Tugu Identitas, tugu ini terletak di depan pertokoan Matahari. Seingat saya dulu disini adalah pasar tradisional dan terminal angkutan umum. Bangunan ‘serupa’ Menara Kudus ini  merupakan monumen perjuangan rakyat Kudus dalam merebut Kemerdekaan RI dan ditetapkan sebagai Lambang Daerah Kabupaten Kudus. Namun lambang tersebut ‘tercemari’ dengan rencana pembangunan hypermart yang lokasinya persis bersebelahan dengan tugu sehingga pemandangan mata  menjadi amat sangat ‘sumpek’. Ironis….. menurut saya, kemajuan suatu daerah tak harus ditandai oleh banyaknya super market atau gedung bertingkat lainnya terlebih kalau harus mengorbankan lahan hijau atau area terbuka untuk publik seperti taman dan lain-lain.

Waktu telah menunjukan jam 09.30, saatnya saya kembali ke hotel untuk bersiap menghadiri acara reuni. Acara yang mampu membatalkan rencana traveling saya hehe.

Ladies

Gents

AFHM, tetep narseeees hehe

suka cita yang berakhir urai air mata

Walau terlambat satu jam dari yang telah ditentukan panitia, saya akhirnya bisa bertemu dan melepas rindu dengan teman-teman. Banyak cerita terungkap dan selalu diiringi dengan gelak tawa kami bersama. Kesan mereka terhadap saya “Adel saiki wis dadi wedhok, mbiyen kan lanang”  (Adel sekarang sudah berubah jadi wanita, dulunya kan laki-laki hahaha).

@Ibis Semarang, ga sengaja ketemu mbak Lenny (temen kantor)

@Pisa Cafe & Resto Semarang, nice 2 meet U mbak Ani

@Bandara A.Yani dg mbak Amalia. Wajah letihku bukan tanda tak bahagia

Finally, sempet juga foto di gerbang sekolahku dulu (cuma 1 semester hehe)

Waktu terasa begitu cepat yang mengharuskan kami berpisah, isak tangispun tak bisa dibendung namun saya harus melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Stay 1 malam di ibukota propinsi Jawa Tengah itu sebelum esoknya kembali ke Bandung. Alhamdulillah di semarang saya juga bertemu dengan teman baru yang terhubung melalui fesbuk dalam rangka menjalin kerjasama di bidang produk herbal untuk mendukung klinik yang saya kelola kelak. Selain itu saya juga bertemu dengan mbak Amalia. Nuwun sanget mbakyu telah berkenan nemeni saya makan, napak tilas ke SMA 5 dan mengantar ke bandara A. yani.

Untuk semua teman….terima kasih telah bersedia menerima saya, memaklumi kejutekan saya, memahami sifat egois saya dan membiarkan saya menjadi diri sendiri . Saya menyukai quote ini : “Saya tidak berharap menjadi seseorang terpenting dalam hidup kalian, saya cuma bahagia bila suatu hari nanti kalian mendengar nama saya, kalian akan tersenyum dan berkata “DIA TEMAN BAIKKU”…..

Kudus : Day 2 (Napak Tilas Bagian 3 : A beautiful day with you friends)

@montel. Colo

Arrgghhhhh…..nggak ingin lama-lama saya pendam semua kisah perjalanan di Kudus karena khawatir ada yang terlupa. Hingga kini masih terasa debar jantung saat pertama kali menginjakkan kaki di kota beraroma khas (cengkeh dan tembakau) itu. Bahkan rekaman peristiwa demi peristiwa masa lalu seolah terputar ulang dalam memori saya.

Melengkapi napak tilas di hari pertama, agenda saya hari ini adalah ekplorasi Gunung Muria. Dulu, kami para atlit dalam kurun waktu tertentu (seminggu atau dua minggu sekali) menjalani latihan fisik lari marathon ke gunung yang berjarak 18 kilometer dari pusat kota ini. Hahaha jadi teringat bagaimana saya selalu menjadi yang terakhir sampai garis finish sehingga ada saja atlit lelaki yang bertugas ‘mengawal’ untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Bersama Farida, Helma dan Maria saya bertolak dari pusat kota menggunakan angkot sekitar pukul 11 siang. Tadinya kalau jalan sendiri saya akan berangkat pagi namun karena teman-teman ingin menemani jadi saya memberi mereka waktu untuk ‘mengurus’ suami dan anak-anaknya terlebih dahulu mengingat malam kemarin mereka bersama saya di hotel hingga tengah malam hehehe.

@angkot otw Colo

Ngaso duluuu dlm perjalanan menuju montel

Jadilah kami geng AFHM (Adel-Farida-Helma-Maria) selama kurang lebih 45 menit menggoyang angkot dengan segala cerita kami saat di SMP. Saya yang super jutek dan galak sehingga tak mengenal pacaran karena tak ada lelaki yang berani mendekat, berbeda dengan Farida yang grapyak (ramah) membuatnya banyak disukai kaum adam maupun hawa, Helma yang super ribut tapi penampilannya cuek abis dan Maria yang kalem tapi hobinya macuk-macuke (njodoh-jodohin) teman hehehe.

Kami memiliki karakter yang berbeda tapi selalu kompak dan nggak pernah berantem, namun kekesalan atas tingkah kami masing-masing jadi terungkap saat ini dan hanya ditanggapi bersama dengan gelak tawa. Karena rasa kesal itu tak pernah terungkap pada masanya dulu. Yah…..inilah arti pertemanan, dunia begitu berwarna dan indah karenanya. Walau saya termasuk orang yang tak mudah berteman dan sangat selektif memilih teman sehingga cap sombong adalah hal yang wajar saya terima namun bagi yang mengenal secara ‘dekat’, mereka menilai saya orang yang asik kok (ini pernyataan teman-teman dekat saja hehehe).

pecel daun pakis, pakisnya cuma 'secuil' hiiikzzz

Dengan tarif angkot Rp. 10.000/orang kami akhirnya sampai di Colo, karena hari itu adalah jumat dan saat kami tiba bertepatan waktunya dengan sholat jumat sehingga tak ada ojek yang beroperasi. Sambil menunggu waktu kami menuju warung pecel daun pakis yang memang sudah saya idamkan. Aaahhh…..namun sayang daun pakisnya sedang tidak musim sehingga hanya sedikit yang ada didalam campuran sayuran berbumbu kacang tersebut. Kecewa ……tapi saya tetap melahapnya dengan bakwan (bala-bala kalau di bandung). Harga pecel tersebut baik lengkap dengan nasi atau tidak seharga Rp. 4.000 (ekonomis yak hehehe).

ngojeeeeek, saya selalu paling belakang

jiaaaaah....mas ojeknya malu2 hehe

Rencana semula kalau jalan sendiri saya akan menyusuri lereng gunung Muria menuju montel dan rejenu dengan jalan kaki namun karena bareng teman yang membawa serta anak kecil jadi saya tak tega ‘menyiksa’ mereka dan memutuskan menggunakan ojek. Tarif ojek menuju montel seharga Rp. 7000/sekali jalan dan menuju Rejenu Rp. 25.000/sekali jalan. Tarif masuk montel Rp. 5.000/orang sedangkan masuk Rejenu gratis. Satu yang harus diingat ketika naik ojek, mintalah mas tukang ojek untuk tidak melajukan motornya dengan kecepatan seperti ‘tong setan’ hehehe. Hal ini saya lakukan sehingga selalu menjadi motor terakhir yang sampai ke tujuan.

Airnya tak sederas saat lebih 20-an tahun lalu saya kesini

Montel atau air terjun kebanggaan masyarakat Kudus ini berjarak kira-kira 1,5 km dari pesanggrahan Colo. Menggunakan ojek hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit selanjutnya berjalan kaki  kurang lebih 500 m. Air yang meluncur dari ketinggian  sekitar 50 m ini cukup menghasilkan suara gemericik yang menentramkan jiwa ditambah suhu 18-20 derajat celcius membuat udara jauh lebih sejuk dibanding pusat kota. Montel ini lokasi tepatnya berada di sebelah utara Makam Sunan Muria, di kaki  Pegunungan Muria  yang puncak tertingginya disebut puncak Songolikur (± 1.602 meter).

selalu terharu mengingat perjuanganmu, Maria

Sungguh ada keharuan dalam benak saya melihat perjuangan Maria yang belum lama ini mengalami kecelakaan dan patah tulang  kaki. Bahkan dia masih menggunakan pen sehingga selama menyusuri jalan menuju montel saya menggandeng dan membantunya menaiki maupun menuruni jalanan yang  terjal tersebut. “It was touching” batin saya. “nggak apa-apa neu (ineu : panggilan masa kecil saya), aku melakukan ini dengan bahagia karena selama ini aku selalu merindukanmu”, begitulah Maria menjawab kekhawatiran saya tentang keadaannya. hoaaaaaa……no words I can say. Dan benar …..kami semua selama di montel mengumbar canda tawa melepas rindu di tengah alam yang sejuk dan indah. Tak peduli ratusan pasang mata  wisatawan lainnya menatap kearah kami, pokoknya berasa dunia hanya milik kami berempat wkwkwk.

Sebenarnya kami semua orang yang tidak familiar menggunakan jasa ojek, tapi karena hanya itu pilihan yang ada maka kami berusaha menikmati dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga dan mengabadikannya. Menuju Rejenu butuh waktu 25 menit. Jalannya mendaki dengan belokan yang cukup tajam namun kesan ngeri terhapus oleh pemandangan asri di samping kanan maupun kiri jalan selebar sekitar 3 meter itu.

keriangan kami @Rejenu

Rejenu adalah kawasan wisata alam (ecotourism) dengan ketinggian sekitar 1.150 m dpl.  Kawasan wisata yang terletak di Pegunungan Argo Jembangan (salah satu puncak Gunung Muria) ini berjarak sekitar 3 km dari Makam Sunan Muria.  Di kawasan ini kami dapat menyaksikan dan mengamati berbagai jenis tumbuhan dan alam pegunungan. Disini juga terdapat makam Syeh Sadzli yang merupakan murid terbaik Sunan Muria (Raden Umar Said). Tepat dibawah makam terdapat musholla sehingga bagi kita kaum muslim bisa melakukan sholat disini. Wah…..saat ambil wudhu terasa airnya sangat dingin hingga seakan menembus lapisan terdalam kulit saya.

bawa pulang air sindang 3 rasa

yang ini rasanya masam

Konon salah satu khasiatnya adalah awet muda hehe

Dibawah musholla terdapat Sumber Air Tiga Rasa. Sumber air ini keluar dari sebuah lubang berbentuk bulat di permukaan tanah dengan diameter kurang lebih 50 cm. 3 Rasa tersebut yaitu: pertama,  rasa tawar-tawar masam yang dipercaya berkhasiat mengobati berbagai penyakit dan awet muda. Kedua,  rasanya mirip dengan minuman ringan bersoda (soft drink) yang dipercaya berkhasiat menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. Dan yang ketiga berasa mirip minuman keras sejenis tuak/arak yang dipercaya berkhasiat memperlancar rezeki.

pulang dari Colo hanya mampir ambil gambar SD dimana saya sekolah selama 3 tahun

Konon, awalnya mata air ini ada 4 macam yang kalau semuanya dicampur dapat mengabulkan apapun permohonan peminumnya.  Oleh Syeh Sadzali, mata air keempat ditutup karena banyaknya peziarah yang melakukan ritual dengan tujuan-tujuan tertentu yang dikhawatirkan menjadi perbuatan syirik.

Friend forever

Temans….sungguh perjalanan ini sangat berkesan bukan karena tempat-tempat yang kita kunjungi tapi kehadiran kalian menjadikan semuanya ‘so beautiful and colorful’. Terima kasih tetap mengingat saya setelah 21 tahun terpisah. I love you all, big hug and thousand kisses……

Semarang, Demak, Kudus : Day 1 (Napak Tilas Bagian 2 : Semriwiiiing)

@Bale Raos. Sesaat sampai Kudus, ketemuan dg teman2 terbaik

Entah dari mana saya harus mulai menuliskan kisah perjalanan saya ke Kudus tanggal 1 – 4 September lalu. Semuanya begitu menyenangkan. Bertemu teman-teman SMP, napak tilas masa kecil dan masa remaja hingga eksplorasi sebagian objek wisata  kota Kudus.

Kudus yang dikenal sebagai Kota Kretek merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang letaknya 51 km dari Semarang.  M. Niti Semito adalah orang pertama yang mendirikan pabrik rokok kretek cap tiga bola di Kudus pada awal tahun 1900 an. Dan sejak itu muncullah beberapa pabrik rokok  disana diantaranya yang terbesar adalah Djarum, Sukun, Djambu Bol, dan Nojorono.

Saya pertama kali datang ke Kudus pada Tahun 1984 yang saat itu masih kelas 4 SD. Saya bergabung dengan Perkumpulan Tenis Meja (PTM) Sukun yang berpusat di Kecamatan Gebog. Sekitar tahun 1988 saya pindah ke PTM Djarum. Hari-hari saya dan atlit lainnya selain sekolah adalah latihan. Pagi hari sebelum berangkat sekolah kami latihan fisik dan sore harinya latihan teknik. Ini adalah masa yang sungguh takkan pernah terlupa karena dari situlah ‘perjuangan’ saya dimulai dan Kudus menjadi kota paling bersejarah sehingga saat teman-teman alumnus SMP 3 akan mengadakan reuni dengan serta merta saya menyatakan bersedia hadir.

SEMRIWIIIIING…….

Semriwing disini merupakan rasa yang tak bisa saya lukiskan sesaat turun dari pesawat Garuda (GA234) yang membawa saya selama 1 jam di udara dari Jakarta ke Semarang. Menghela nafas perlahan namun panjang membuat saya sedikit bisa mengendalikan rasa yang ada.

Setelah beres dengan urusan bagasi saya langkahkan kaki keluar gedung bandara disambut lambaian tangan teman yang berbaik hati menjemput. Kami melepas rindu dengan saling bertanya kabar dan tanpa membuang waktu saya meminta untuk langsung meluncur ke Kudus tapi mampir ke Masjid Agung Demak karena tertarik dengan sejarah pendiriannya.

@Masjid Agung Demak

4 Pilar di dalam Masjid

Masjid Agung Demak adalah salah satu  mesjid tertua di Indonesia. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para wali (walisongo)  untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak (Sumber Wikipedia).

'saka tatal' sumbangan Sunan Kalijaga

Bangunan masjid terbuat dari kayu jati  berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati,  Sunan Bonang, dan yang unik adalah sumbangan Sunan Kalijaga yang tiangnya tidak dibuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal).

Usai menikmati arsitektur klasik Masjid Agung Demak saya dan teman memutuskan langsung melanjutkan perjalanan ke Kudus. Tadinya ingin menunggu waktu sholat Dzuhur tapi dengan pertimbangan waktu kami urungkan itu.

Tiba di Kudus tepat waktunya makan siang, terdeteksi dari cacing-cacing di perut ini yang mulai menggeliat hehe. Dan pilihan akhirnya jatuh pada Bale Raos Resto setelah beberapa Resto lainnya yang dikunjungi masih menutup rapat pagarnya tanda tak melayani kami ‘para pencari makan’ :).

Saya menelepon teman-teman terbaik saat SMP dan alhamdulillah mereka semua berkenan untuk datang dan jadilah kami heboh bercerita setelah sebelumnya melakukan adegan cipika cipika dan berpelukan :D.

Eks Ruang Makan Asrama Tenis Meja Djarum

Eks Asrama Putra

mengingat masa2 itu

GOR Djarum : inget saat lari ngiteri gudang2 ini

Setelah makan kami berpisah namun berjanji dengan Helma, Maria dan Farida untuk kumpul kembali malamnya di hotel tempat saya menginap. Dan disela-sela itu untuk mengefektifkan waktu (OGI banget deh, ogah rugi waktu hehe) saya memutuskan untuk ‘menapak-tilasi’ tempat-tempat bersejarah seperti Asrama Atlit Tenis Meja Djarum, GOR Djarum, SMP 3 dan SMA 2. Setelah puas menjelajah tempat-tempat itu sayapun mampir ke warung makan soto kudus, hmmmm….yummy.

kejutekanku begitu 'menggema' disini xixi

cuma 1 semester disini

@depan ruang kelas X, brasa kembali ke masa itu

salah satu makanan yang kusuka di Kudus

Mengunjungi kembali tempat-tempat  tersebut membuat ingatan saya kembali ke masa 20 puluh tahun lalu. Semua itu ternyata menjadikan diri saya yang sekarang ini, disiplin dan mandiri. Kudus, walau wilayahmu kecil tapi pengaruhmu begitu besar untuk kehidupan saya :).

KUDUS : napak tilas bagian I

Bersama Tim PTM Sukun Kudus

Bertemu dan berinteraksi kembali dengan teman masa kecil sungguh sangat menyenangkan, walau sementara ini kami hanya berinteraksi di dunia maya dan telepon namun saya merasa excited dengan semua itu. Beberapa minggu ini teman saya di akun fesbuk bertambah secara drastis, karena sebelumnya saya merupakan orang yang sangat selektif dalam mengkonfirmasi friend request tapi hal itu tentu tak berlaku untuk teman yang ‘benar-benar’ teman. Saya tak terbiasa menerima pertemanan yang nggak jelas asal usulnya untuk menghindari hal-hal yang tidak baik.

salah satu sesi latihan fisik di PTM Djarum

Bersama tim kab. Kudus untuk even Kejurda Jateng

Kudus adalah kota kecil di Jawa Tengah dimana saya menghabiskan masa kecil. Tahun 1984 saya diajak kakak saya untuk bergabung dengan Perkumpulan Tenis Meja (PTM) Sukun, saat itu saya masih berada di kelas 4 SD. Hari pertama masuk sekolah di SDN Piji II Dawe saya melihat ‘keganjilan’. Bagaimana tidak, murid-muridnya pergi ke sekolah tidak memakai sepatu dan tidak membawa tas, bahkan memakai sandal pun tidak alias tanpa alas kaki sedangkan bukunya cukup digulung dalam genggaman. Masih jelas di benak saya saat itu Adel kecil merasa ‘kurang nyaman’  dengan penampilan murid yang sangat jauh berbeda dengan kami di Bandung. Saya yang saat itu cukup stylish memakai sepatu, membawa tas dan menggunakan vest malah tampak menjadi ‘mahluk aneh’ di antara mereka.

kangen makanan ini (pecel daun pakis di Colo)

'montel' salah satu objek wisata andalan Kudus

Selepas SD saya melanjutkan sekolah di SMPN Gebog, disini kondisinya tergolong lebih baik karena Gebog adalah ‘markas’ pabrik rokok Sukun sehingga masyarakatnya terlihat lebih ‘maju’ karena  mereka memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik sebagai karyawan pabrik bahkan pemilik pabriknya juga tinggal disini. Berbeda dengan Dawe yang masyarakatnya mayoritas sebagai buruh ‘linting rokok’, buruh bangunan atau petani. Saat di Dawe saya tinggal bersama salah satu ‘pejabat’ Sukun.

Hanya satu tahun saya mengenyam pendidikan di SMPN Gebog selanjutnya pindah ke SMPN 3 Kudus yang berlokasi di pusat kota. Kepindahan itu berbarengan dengan pindahnya saya dari PTM Sukun ke PTM Djarum. Di sekolah ini saya menyelesaikan pendidikan tingkat menengah. 2 tahun tentu memiliki kenangan yang cukup banyak apalagi saat itu menginjak usia remaja yang mulai mengenal cinta monyet hahaha. Bahkan sampai saat ini saya masih ingat dengan jelas nama seseorang yang sempat menarik perhatian Adel kecil, walau hingga kami lulus tak pernah terjalin interaksi apapun dengannya.

Salah satu hal terindah saat itu adalah memiliki teman-teman terbaik seperti Isabela, Helma, Maria, Inayah dan Farida. Kami bukan termasuk ‘geng borju’ atau ‘geng feminim’ justru sebaliknya kami adalah kumpulan anak-anak yang pendiam,  jutek, galak dan tomboy hahaha. Duh memori saya jadi teringat ke masa itu, kami selalu pulang bersepeda bareng. Saya dibonceng Isabela dan dia adalah teman sebangku saya, but where are you? sampai saat ini semua teman kehilangan informasi tentang keberadaannya, terakhir ada kabar dia tinggal di Bali. Semoga dengan tulisan ini saya bisa menemukannya hehe (ngareeeep). Helma saya telah terhubung melalui telepon, sedangkan dengan teman lainnya kami telah terhubung dalam pertemanan di fesbuk bahkan saya menjadi mengenal teman lainnya yang dulu tak sempat berinteraksi.

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan mengenang masa kecil maka kami para alumnus SMPN 3 Kudus akan menyelenggarakan reuni di bulan September mendatang. Kontan hal itu menyulut jiwa traveler saya, selain bertemu teman tentu tujuan kedatangan saya ke Kudus untuk napak tilas dan mengeksplor destinasi wisata kota kretek tersebut. Saya berencana akan mendatangi sekolah dan tempat tinggal waktu itu, wisata kuliner  (lentog, soto kudus, pecel pakis di Colo), wisata religi (Menara Kudus, selain masjid juga tempat dimakamkannya Sunan Kudus, Gunung Muria yang terkenal dengan air terjunnya juga terdapat makam Sunan Muria), dan kalau bisa saya ingin ke Masjid Agung Demak yang menurut sejarah  merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam yaitu Walisongo untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Sebagai orang yang well prepare, saya sudah membeli tiket pesawat Jakarta-Semarang dan kali ini Garuda menjadi maskapai penerbangan pilihan. Rencananya  dalam perjalanan dari Semarang menuju Kudus itulah saya akan singgah di masjid Agung Demak.

Wooow….rasanya sudah tak sabar menunggu saatnya tiba. Mengenang masa kecil dan mengingat perjuangan hidup saya yang  dididik mandiri oleh orang tua. Sejak kecil telah terpisah dengan keluarga,  memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak membebani orang tua untuk segala keperluan sehari-hari maupun sekolah karena hal itu telah menjadi fasilitas yang kami terima dari klub. Terima kasih untuk papa sebagai pelatih pertama, alm. mama yang rela ‘melepas’ dengan iringan doa dan kakak yang bersedia mengajak serta saya untuk merantau.

Kudus menjadi kota paling ‘bersejarah’ bagi saya karena disinilah pertama kali saya belajar Islam. Belajar ngaji yang dipanggilkan guru privat oleh alm. Bpk Sumarno (pemilik rumah di Dawe yang saya tinggali) , lalu belajar sholat dan akhirnya Islam menjadi agama saya hingga kini. Gusti, ijinkan saya merealisasikan rencana-rencana itu. Saya sungguh bersyukur atas hidayah-Mu dan ingin menjadikan perjalanan tersebut sebagai bagian dari itu.

Langkah saya traveling ke berbagai negara di Asia hingga ke benua Eropa (dan memiliki obsesi mengunjungi negara di benua Australia, Amerika dan Afrika) diawali dari perjuangan di kota kecil ini karena dengan pingpong saya mendapat pekerjaan serta  pengalaman bergaul dengan berbagai kalangan tanpa ‘batasan hirarki’ sehingga semua itu menjadi bekal yang tidak didapat di bangku sekolah. Benar kata pepatah bahwa pengalaman adalah guru paling berharga.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 343 other followers