Maaf, Sementara Konten Dalam Proses Editing

Kepada pembaca atau pencari info tentang traveling, mohon maaf untuk sementara waktu kisah perjalanan saya dan Rey terpaksa ditutup dalam rangka proses editing (menghapus foto-foto diri yang masih berpakaian tidak sesuai syariat). Insyaallah nantinya cerita perjalanan kami ke beberapa negara di 3 benua akan hadir kembali sebagai ajang berbagi informasi bagi traveler yang berencana melakukan perjalanan secara independent seperti yang selalu kami lakukan.

Hal ini perlu dan penting karena saya telah ‘hijrah’ menggunakan jilbab syar’i sehingga sangat tidak benar memajang foto-foto lama yang masih mengumbar aurat. Mohon maklum adanya.

wpid-060914.jpg

New Zealand : Preparation of NZ visa aplication documents

Tiket pesawat dan hotel di semua kota sudah OK kini saatnya saya harus menyiapkan dokumen untuk pengajuan visa turis. Menurut informasi yang saya dapat hasil googling, dokumen yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

  • Formulir aplikasi yang telah diisi lengkap (download di website http://www.nzembassy.com)
  • Passport asli yang minimal masih berlaku 3 bulan setelah kepulangan dari Selandia Baru
  • Pas foto berwarna 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar yang langsung ditempel di formulir
  • Copy booking tiket pesawat PP (sebagai bukti akan kembali ke Indonesia)
  • Karena akan travel dengan Reyhan maka formulir yang diisi cukup 1 hanya  foto Rey diattach ke form section khusus
  • Kartu keluarga Asli + fotocopy,
  • Surat nikah/Akta cerai
  • Bukti keuangan berupa rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir (asli + fotocopy). Kira-kira harus punya saldo NZD 1,000 per orang untuk masa tinggal 1 bulan.
  • Surat keterangan kerja dari perusahaan (asli) yang menerangkan status pegawai dan mengambil cuti selama travel
  • Itinerary
  • Siapkan uang tunai untuk processing fee

 

Packing….Packing…

Hari ini, Sabtu 05 Maret 2011 saya mulai menginventarisasi barang apa saja yang akan dibawa ke Eropa. Aktivitas ini saya lakukan bersama Reyhan agar kami dapat membuat kesepakatan apa yang menjadi tanggung-jawab masing-masing. Saya bertanggung-jawab terhadap 1 buah koper ukuran sedang dan backpack beroda, sedangkan Reyhan mendapat tugas membawa backpack beroda dan backpack tanpa roda. Backpack beroda menjadi pilihan agar tidak terlalu membebani punggung kami, sehingga bila keadaan memungkinkan untuk didorong tak perlu digendong.

Packing sengaja saya lakukan jauh-jauh hari selain agar dapat terkoreksi hari demi hari mengenai urgensi dan ukuran berat suatu barang, juga mengingat kesibukan saya di hari kerja. Sebagai karyawan salah satu BUMN, sepulang kerja saya mengikuti pendidikan estetika akupunktur guna mendukung bisnis yang tengah dirintis dalam bidang kecantikan, sehingga setiap hari sampai rumah disaat matahari telah lama pergi. Dengan kesibukan tersebut saya harus bijak mengatur waktu, apalagi sebelum keberangkatan traveling ini dijadwalkan adanya ujian lokal akupunktur yang tentu memerlukan konsentrasi untuk belajar. Alhamdulillah untuk ujian kompetensi tingkat nasional pelaksanaannya pada bulan April sehingga saya harap bisa mengikutinya sepulang dari Eropa dan memiliki persiapan yang cukup.

 

Manfaat lain packing jauh-jauh hari adalah untuk mengetahui berat kotor barang-barang setelah dimasukan ke dalam koper, hal ini agar tak terjadi over weight saat masuk dalam bagasi pesawat.

 

Berikut adalah daftar barang yang akan dibawa :

  1. Dokumen
    • Paspor (tersimpan juga filenya di USB dan email, in case something happen ini bisa membantu)
    • Money belt, berpengalaman traveling bersama Reyhan sejak balita membuat saya hafal betul kerepotannya, jadi untuk keamanan saya akan menyimpan sebagian besar uang dan kartu kredit beserta ID penting lainnya di money belt. Namun sesuai pepatah jangan taruh telur dalam satu keranjang maka sayapun akan menyimpan uang di beberapa tempat yang berbeda.
    • Polis Asuransi perjalanan
    • Surat konfirmasi pembelian : tiket pesawat, tiket kereta api, tiket masuk tempat wisata, kartu pass
    • Diary. Saya dan Reyhan membawa masing-masing 1 diary untuk mencatat segala sesuatu yang kami alami selama traveling2. Barang Elektronik
      1. Handycam, kamera, notebook/laptop, travel rice cooker, travel iron, handphone, Ipod, PSP (PlayStation Portable), Alfalink (kamus elektronik)
      2. Tripod, mini DV kosong, Charger, USB, Card reader
      3. Pakaian
        1. Coat/Jaket, kaos, celana panjang katun/jeans (masing-masing kami hanya membawa kaos : 6 , celana panjang : 3 dan jaket/coat :2). Tidak membawa banyak pakaian karena disana musim dingin sehingga akan jarang berkeringat. Bila kotor saya akan memakai jasa laundry. Untuk stylish-nya saya akan pakai pola mix n match saja agar tidak membosankan
        2. Underwear sekali pakai, agar kapasitas koper kami menjadi longgar saat kepulangan sehingga bisa untuk tempat souvenir yang akan dibeli.
        3. Long jhons (thermal under wear), fungsinya untuk menghangatkan tubuh saat cuaca dingin. Saya membelinya 6 tahun yang lalu saat di Hongkong tapi karena good quality jadi masih layak pakai. Untuk Reyhan saya beli di Bandung, di toko khusus perlengkapan musim dingin.
        4. Sarung tangan, kaos kaki, syal, vest/rompi (untuk Rey), sunglasses, sepatu, topi (saya sehari-hari memakai busana muslimah, namun saat traveling lebih nyaman menggunakan topi yang dikreasikan sedemikian rupa sehingga tetap menutupi kepala dan rambut)
        5. Perlengkapan Mandi
          1. Sabun, shampoo (travel size), sikat gigi, pasta gigi, body lotion (ini penting untuk melembabkan kulit)
          2. Closet seat sanitizer (untuk membunuh kuman sebelum duduk diatas kloset), hand sanitizer, tisu kering, tisu basah, handuk ukuran sedang namun beratnya yang ringan, payung dan jas hujan (antisipasi terhadap berbagai cuaca, bila memutuskan beli disana akan membutuhkan dana yang lebih besar dibanding dengan membawanya dari Indonesia)
          3. Obat-obatan
            1. Obat flu, demam, pusing, diare, sakit kepala, batuk (obat batuk asma untuk Rey), vitamin
            2. Obat gosok, minyak kayu putih, plester untuk luka, lotion anti nyamuk
            3. Makanan dan peralatannya
              1. Susu bubuk sachet, havermuut, mie instan, sambal botol, beras, macam-macam biskuit, permen, abon, ikan teri/tempe kering
              2. Mug (ini penting karena di Eropa terdapat banyak kran air siap minum)
              3. Stainless bottle (karena kami menyukai minuman hangat)
              4. Sendok-garpu lipat
              5. Kosmetik
                1. Sebagai wanita yang anti menggunakan bedak (walau saya terlihat modis dalam berpakaian, kata sebagian besar teman), namun dalam hal wajah saya menyukai tampilan alami yang minimalis tanpa polesan sehingga tidak berasa seperti badut atau topeng hehe. Jadi kosmetik yang dibawa hanya vitamin untuk wajah, pelembab siang & malam, sunblock (kalau diperlukan), sabun cuci muka, lip balm dan lipstik

 

Dari daftar diatas terlihat banyak barang yang akan habis saat kepulangan sehingga koper akan berganti diisi oleh souvenir atau barang yang kami beli. Hal ini sudah saya pikirkan agar tidak ada penambahan jumlah tas maupun koper saat pulang ke Indonesia kecuali yang telah saya siapkan yaitu satu buah backpack yang dilipat dan disimpan dalam koper saat keberangkatan.

Terima Kasih Masa Lalu

200914-1

TERIMA KASIH MASA LALU

 

Hitam…

Membuatku belajar tentang gelap

Membuatku berupaya mencari cahaya

 

Bukan lilin

Bukan lampu pijar

Bukan pula fanoos nan indah di tanah Kairo

 

Kuhanya mencari setitik cahaya

Dalam malam kubersujud

Dalam sujud kumeratap

Dalam ratap kubertobat

Dalam tobat kumenghamba

 

Tidaklah aku akan kembali kepada-Mu tanpa hidayah

Tidaklah kusempurnakan jilbab tanpa iman

 

(Agustus 2014, masih terus berproses)

 

 

Singapura (yang ke-sekian kalinya)

Negara ini sudah sangat tidak asing disambangi oleh WNI baik yang bertujuan wisata maupun bisnis atau sekedar ingin belanja, hangout bahkan tidak sedikit yang hanya transit sebelum melanjutkan penerbangan/perjalanan ke negara lain.

Kali ini saya dan Rey termasuk orang yang sekedar ingin menghabiskan akhir pekan sekalian bertujuan mencari sepatu hiking yang konon di negara ini memiliki koleksi lebih lengkap dari pada di tanah air.

Pada 21 Februari lalu dengan menaiki pesawat Jetstar VF 206 dari Soekarno Hatta pukul 22.00 WIB sampai di Terminal 1 Changi pukul 00.45 hari berikutnya. Kami memutuskan bermalam di terminal 2 Changi. Terminal 2 menjadi pilihan agar mudah naik MRT pada pagi harinya.

Ng-gembel di Changi

Ng-gembel di Changi

Bermalam di bandara bukan hal baru bagi kami karena saat traveling ke Eropa kami juga memilih tidur di beberapa Bandara karena penerbangan Ryan Air dan Easy Jet yang berbandrol promo selalu diterbangkan tengah malam atau dini hari. Selain menghemat waktu, menginap di bandara juga dapat menghemat uang dan tenaga. Hal tersebut lumrah dilakukan oleh sebagian besar traveler dengan berbagai pertimbangannya masing-masing.

AKOMODASI

Sabtu pagi kami membasuh wajah dan sholat subuh di  Changi, baru sekitar pukul 6 pagi bergegas menuju lantai basement untuk naik MRT. Dengan kartu EZlink yang diberi oleh teman kantor, saya dan Rey naik MRT dan akan turun di Stasiun Little India. Stasiun dengan aroma khas ini adalah pemberhentian terdekat menuju hostel Hangout Mount Emily dimana kami akan menginap.

taman ini tepat di depan hostel

taman ini tepat di depan hostel

Hostel ini saya pesan melalui Hostelling International seharga SGD141 (include membership yang berlaku di seluruh dunia). Perjalanan menuju Hangout mt. Emily memerlukan ‘perjuangan’ lho karena jalannya menanjak dan jaraknya cukup jauh dari stasiun sehingga hostel ini cocok bagi pelancong tanpa koper besar.

Privat room. disini ada pilihan sharing room juga

Privat room. disini ada pilihan sharing room juga

pemandangan unik menuju Hostel. Rumah mungil klasik dg bentuk jendela yg sama tapi warnanya beda-beda

pemandangan unik perjalanan menuju stasiun dari hostel. Rumah mungil klasik dg bentuk jendela yg sama tapi warnanya beda-beda

Perjuangan menuju Hostel terbayar sangat layak karena kami disambut oleh staf yang ramah, bahkan kami diijinkan cek in lebih awal (saat itu pukul 8 pagi), kami juga langsung berhak menikmati fasilitas free wifi juga minuman (teh/kopi). Rasanya seperti mendapat durian runtuh, kamipun langsung leyeh-leyeh sejenak di kamar mungil nan bersih dengan fasilitas AC, privat bathroom namun tanpa TV (TV, komputer, meja billiard tersedia di area dinning room dimana para traveler dari berbagai negara bisa saling berkenalan dan bercengkerama).

DESTINASI

Setelah melepas lelah di kasur empuk hostel, sekitar pukul 10.30 kami menuju Marina Bay Sands, di area baru andalan Singapura tersebut saya ingin mengajak Rey untuk mendatangi beberapa atraksi wisata yaitu Garden By The Bay, Art Science Museum, Helix Bridge, OCBC Bridge, Super trees, dll.

Dari semuanya yang paling menyenangkan bagi Rey saat memasuki Art Science Museum, mulai 25 Januari – 27 Juli 2014 mengusung tema DINOSAURS Dawn To Extinction. Tiket masuk untuk dewasa SGD24, akan berbeda tarifnya bagi warga Singapura atau pelancong yang menginap di MBS Hotel. Oya awalnya saya berencana menginap di hotel mewah tersebut yang berharga sekitar 2 juta/malam karena ingin menikmati sensasi berenang di infinity pool-nya. Saya akhirnya membatalkan kamar yang telah dipesan melalui http://www.booking.com karena Rey protes, “Ngapain buang-buang duit Mami. Mending nginep di hotel biasa aja jadi uang lebihnya bisa buat belanja. Rey juga ngga akan mau berenang disana, serem ah ama ketinggiannya. Kecuali kalo mami mau berenang sendiri”.

selalu excited....@Art Science Museum

selalu excited….@Art Science Museum

menuju pintu masuk Sea Aquarium

menuju pintu masuk Sea Aquarium

malming di Merlion Park

menyatukan atraksi andalan Singapura ke dalam satu frame : Spore flyer, Helix Bridge, Art Science Museum, Esplanade, MBS, Merlion

Selain mengunjungi beberapa atraksi di MBS kami juga melihat aneka ikan di SEA Aquarium yang dinobatkan sebagai akuarium terbesar di dunia dengan harga tiket masuk SGD38. Dan malamnya kami bersama wisatawan lainnya dari berbagai negara menyaksikan atraksi laser di puncak MBS dari Merlion Park.

Colombia Hiking Shoes, insyaallah akan kami pake mendaki gunung Fuji Jepang

Colombia Hiking Shoes, insyaallah akan kami pake mendaki gunung Fuji di Jepang

Minggu sebelum kembali ke tanah air kami mampir ke Orchard Road untuk membeli sepatu hiking, alhamdulillah di Takashimaya tengah berlangsung promo sehingga harga yang kami bayar jauh lebih murah dibanding membelinya di tanah air.

Perjalanan singkat ini tidak memiliki kesan khusus karena banyak orang pasti pernah mengalami apa yang kami lakukan, satu hal yang menjadi hikmah adalah sepulang ke Bandung saya langsung merombak taman mungil halaman rumah yang selama ini terbengkalai. Hati kecil saya malu kepada Singapura yang memiliki keindahan dan keasrian Garden by The Bay, kenapa saya yang tinggal di Bandung sebagai penyandang kota kembang kok taman rumahnya sangat gersang.

halaman rumahku sebelum ke Singapura

halaman rumahku sebelum ke Singapura

Efek positif malu pada Singapura

Efek positif malu pada Singapura

cahaya lampu warna ungu krn kupake toples tupperwar. Ini menginspirasi teman membuat lampu taman dari toples tupperware hehe

cahaya lampu warna ungu krn kupake toples tupperware. Ini menginspirasi teman membuat lampu taman dari toples tupperware juga hehe

kolam ikan di ruang tengah rumahku, blom berani memelihara banyak ikan

kolam ikan di ruang tengah rumahku, blom berani memelihara banyak ikan

kalo gini ga malu kan menyebut diri tinggal di kota kembang hehe

image
Alhamdulillah kini taman mungil rumah saya tampak asri dan cantik sehingga mengundang banyak komentar teman diantaranya, “Nah kalau begini kan cantik, cocok dengan penghuninya dong”. “Terima kasih Singapura”, batin saya setiap melihat bunga mekar beraneka warna dan ikan-ikan lincah berlarian di kolam yang letaknya di ruang tengah rumah. Kemanapun kaki ini melangkah untuk plesir, rumah selalu menjadi tempat yang saya rindukan karena RUMAHKU SURGAKU…DAPURKU DUNIAKU…ANAKKU JIWAKU.

Jelajah Nusantara (9) : Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau

Apa perbedaan Propinsi Riau dan Propinsi Kepulauan Riau?, hayo….yang mengaku WNI tulen bisakah menjelaskan perbedaan kedua wilayah tersebut. Ngaku ah…saya sendiri baru mengetahui perbedaannya setelah akhir Desember tahun lalu saat menginjakkan kaki disana hehe (parah…). Berikut saya kutip dari wikipedia yang menerangkan bahwa Propinsi Riau dan Propinsi Kepulauan Riau adalah wilayah yang berbeda.

Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau Sumatera. Provinsi ini terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatera, yaitu di sepanjang pesisir Selat Melaka. Hingga tahun 2004, provinsi ini juga meliputi Kepulauan Riau, sekelompok besar pulau-pulau kecil (pulau-pulau utamanya antara lain Pulau Batam dan Pulau Bintan) yang terletak di sebelah timur Sumatera dan sebelah selatan Singapura. Kepulauan ini dimekarkan menjadi provinsi tersendiri pada Juli 2004. Ibu kota dan kota terbesar Riau adalah Pekanbaru. Kota besar lainnya antara lain Dumai, Selat Panjang, Bagaisiapiapi, Bengkalis, Bangkinang dan Rengat.

Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga.

Desember tahun lalu tepatnya tanggal 16-20 saya ada agenda rapat koordinasi dari kantor di Pulau Batam, jadwal tersebut bertepatan dengan rencana plesir saya dan Rey ke Pekanbaru karena telah mengantongi tiket promo Air Asia Bandung-Pekanbaru/PP keberangkatan 14 Desember 2013 yang saya beli pada 14 Januari 2013 seharga Rp. 778.400,00  include bagasi 15 kg. Dengan begitu akhirnya saya memutuskan mengajak Rey ke Batam menemani saya Rapat karena dia sudah selesai ujian semester sehingga tidak ada lagi pelajaran di sekolahnya, hanya saya melewatkan acara pengambilan progress report pada Sabtu 21 Desember. Saya langsung membuat itinerary ke Provinsi Riau dan Provinsi Kepri,  perjalanan tersebut akan kami lakukan sebelum rakor dilanjut usai rakor sementara peserta lainnya kembali ke kota masing-masing.

A. Provinsi Riau

Mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Sabtu 14 Desember pukul 07.20 pagi setelah penerbangan selama kurang lebih 1 jam 40 menit dari Bandung kami langsung menuju toilet sebelum mengambil bagasi. Toiletnya bersih dan seperti biasa saya selalu senang berbincang dengan petugas kebersihan untuk mengetahui motivasi apa yang membuat mereka begitu terampil menjaga kenyamanan ruang yang sering disebut banyak orang sebagai ‘area belakang’ ini.

siap2 berburu trans metro

siap2 berburu trans metro

Ibu Mimin yang bertugas pagi itu mengatakan bahwa pekerjaan ini dia lakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas sehingga dia sendiri tidak akan tahan bila melihat toilet kotor dan berantakan. Nalurinya akan langsung tergerak merapikan dan membersihkannya terlepas dari tingkah polah sebagian  orang yang memandang rendah profesi dirinya.

1. Hotel

Di ibu kota provinsi Riau ini saya memutuskan untuk menginap semalam di hotel Grand Tjokro yang terletak di jl. Jendral Sudirman no. 51. Lokasi strategis dan bangunan baru dengan desain minimalis menjadi pertimbangan pemilihan hotel ini. Saat itu saya membeli voucher kamar superior di groupon seharga Rp. 375.000,00, lebih murah lima puluh ribu rupiah dibanding public rate, lumayan hehe.

2. Transportasi

Dari bandara kami menggunakan trans metro menuju hotel dengan tarif Rp. 3.000,00/orang. Menemukan halte bus trans metro menuju Jl. Jendral Sudirman perlu perjuangan yang cukup berat lho. Keluar dari pintu kedatangan kami belok kanan dan terus menyusuri area parkir kendaraan hingga menemukan sebuah pintu gerbang yang terkunci gembok. Setelah saya amati pintu tersebut bisa kami lewati karena rantainya cukup panjang sehingga badan ramping saya dan Rey bisa menyelinap diantara pagar besi tersebut.

trans metro pekanbaru

trans metro pekanbaru

Urat malu saya dan Rey memang sudah putus karena beberapa taksi yang menghampiri dengan lantang kami tolak  dan langkah  terus diayun menuju halte Simpang Tiga.

2 hari 1 malam keberadaan kami di provinsi Riau cukup puas menjajal berbagai moda transportasi umum seperti angkutan kota, trans metro, bus umum dan elf. Kami menggunakan elf ketika memutuskan ke kota Bangkinang untuk menonton festival kesenian daerah. Elf dari Pekanbaru ke Bangkinang tarifnya Rp. 15.000,00/orang namun menjadi gratis karena kami berdua dibayari oleh seorang bapak setengah baya yang menggemari traveling juga seperti kami. Saya dan Rey diajak mampir ke  rumahnya di kota Bangkinang selepas melihat festival seni. Berkenalan dengan istri, anak dan keluarga lainnya. Kembali ke Pekanbaru kami diberi tumpangan gratis oleh Bapak Muslim yang kebetulan mereka sekeluarga hendak menuju Pekanbaru menghadiri pernikahan salah seorang kerabat. Traveling = menambah saudara = feeling great.

Oya ciri khas transportasi umum baik di Pekanbaru, Bangkinang maupun Batam adalah alunan musik remix yang memekakakan telinga tapi namanya pendatang ya kami hanya pura-pura budeg aja selama membaur di dalamnya hehe. Selain irama gaduh, interiornya juga hmm….istilah apa yang tepat untuk menggambarkan banyak barang yang digantung misal boneka lusuh, sticker di seluruh body mobil, bahkan ada angkot yang bagian dalamnya dihiasi oleh patung tengkorak seukuran tubuh saya. ALAMAK….

3. Kuliner

Setelah menitipkan koper dan sebelum memulai eksplorasi kota Pekanbaru kami mencari tempat makan terlebih dahulu untuk sarapan. Sesuai saran supir angkutan umum yang kami naiki akhirnya memilih makanan khas melayu di RM. Ampera Cha-cha dengan menu andalannya adalah ikan salai. Ikan salai dan sayuran disini semuanya dimasak santan, enak sih di lidah tapi hati saya tetap kurang sreg menimbang kandungan kolesterol dan lemak yang terpaksa dibiarkan meluncur masuk ke dalam perut hikz. “Lupakan sementara healthy food ya Rey, kita sikat aja makanan ini”, seru saya kepada bujang ganteng yang berada dihadapan sambil memulai suapan pertama.

ikan salai, dkk

ikan salai, dkk

serba 8000/porsi

serba 8000/porsi

Harga makanan disini sangat murah, Rp. 8.000,00/porsi sudah termasuk nasi, lauk dan segelas teh manis.

Selain Ampera Cha-cha, esok harinya kami makan siang di pondok lesehan Ulak’an. Disini kami memesan ikan bakar dan ayam bakar, cita rasanya cukup enak walau ikannya tidak fresh dan ngeri melihat banyaknya minyak yang ada di setiap masakan.

enak tapi serem ama minyaknya

enak tapi serem ama minyaknya

Saat mendatangi kota Bangkinang dimana tengah berlangsung festival seni kami sempat mencicipi beberapa kuliner setempat, yang unik sebutan sate di Bangkinang bukan berdasarkan bahan dasar misal sate ayam, sate kambing atau sate sapi. Awalnya saya bingung kenapa dijual sate kacang atau sate tepung, jawaban kebingungan saya sirna setelah si penjual mengatakan bahwa penamaan tersebut berdasarkan bumbunya misal sate kacang artinya sate ayam/sate kambing/sate sapi bumbu kacang sedangkan sate tepung berarti bumbunya semacam sate padang kalau di Bandung. Hmm…That’s why I love traveling, menambah wawasan dan pengalaman :) .

4. Destinasi

a. Masjid Agung An Nur Pekanbaru

Masjid Agung An Nur dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968 dan saat ini merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Bangunannya dipengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India. (sumber : wikipedia).

ruang sholat masjid An Nur

ruang sholat masjid An Nur

Terdapat eskalator untuk menuju ruang sholat di lantai 2 yang dioperasikan pada waktu-waktu tertentu misal sholat jumat, sholat idul fitri, sholat idul adha atau bila ada perayaan khusus. Bangunan megah berwarna hijau ini sangat menonjol diantara bangunan lainnya di kawasan itu yang merupakan jantung kota Pekanbaru.

Disini kami menunaikan sholat dzuhur sebelum menuju kota Bangkinang

b. Masjid An Namira

Di masjid bergaya arsitektur klasik ala Eropa ini kami beserta keluarga pak Muslim menunaikan sholat maghrib. Keunikan An Namira adalah keberadaan toko-toko di depannya yang berdesain serupa dengan masjid. Suasana ini mengingatkan saya pada sudut-sudut kota Verona-Italia dimana saya dan Rey menyusuri jalan menuju patung Juliet.

hiks kamera saya tdk bisa menangkap

sesaat setelah sholat maghrib

c. Tugu Zapin

Tugu yang berlokasi di pertigaan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Gajahmada ini dibangun pada 28 Desember 2011 dan menghabiskan dana sekitar Rp 4,497 M. Awalnya masyarakat Riau khususnya Pekanbaru bersikeras untuk menolak pembangunan Tugu Zapin karena dinilai oleh sebagian orang mempertontonkan gerakan erotis si penari wanita. Patung tersebut menggantikan Tugu Pesawat Terbang sebagai ikon kota yang melambangkan perlawanan masyarakat Riau kepada para penjajah

Adalah I Nyoman Nuarta sang pemahat dari Bali ini pasti telah mendengar begitu banyak kontroversi mengenai hasil karyanya terkait kemolekan tubuh si penari wanita, namun hingga kini patung sepasang penari tersebut masih berdiri megah di jantung kota Pekanbaru.

d. Yang terlewatkan
Destinasi tujuan yang terlewatkan alias tidak sempat kami kunjungi padahal ada di daftar yang saya tulis adalah : Candi Muara Takus (batal karena sulitnya transportasi umum kesana dan mahalnya tarif sewa mobil), Museum Sang Nila Utama (sudah tutup saat kami datang), tempat wisata keluarga Alam Mayang (Menurut Rey tidak menarik).
B. Provinsi Kepulauan Riau
1. Hotel
Minggu 15 Desember 2013 kami menginap di Rama hotel Batam, tarif Rp. 160.000,00/malam yang saya beli melalui http://www.booking.com.
sampe batam modal tukar poin garuda

sampe batam modal tukar poin garuda

Kami menginap disini semalam sebelum bergabung bersama teman-teman kantor saya di The BCC Hotel pada senin 16 Desember hingga Jumat 20 Desember. Rama hotel saya pilih dengan pertimbangan waktu tiba di Batam adalah malam hari setelah penerbangan dengan pesawat Garuda dari Pekanbaru. Tiket pesawat ini saya peroleh dengan menukar mileage sehingga saya hanya membayar pajak bandara Rp. 40.000,00/orang.

bawa konsol game ps3 dari rumah utk main di hotel sementara emaknya rakor

bawa konsol game ps3 dari rumah utk main di hotel sementara emaknya rakor

Fasilitas Hotel Rama cukup memenuhi kebutuhan kami hanya untuk mandi dan tidur semalam, keunggulannya adalah jarak menuju sup ikan yongki bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Di kota Batam kami menginap di 3 hotel yang berbeda :

- Rama Hotel (kawasan Nagoya)
- The BCC Hotel (kawasan Nagoya)
- Sky View Hotel (Batam kota)
2. Transportasi
Selama di Kepri (Kepulauan Riau) saya menggunakan beberapa moda transportasi, diantaranya :
a. Taksi
- Dari bandara Hang Nadim ke Hotel Rama Rp. 90.000,00.(Argo non blue bird)
- Dari Hotel Rama ke The BCC Hotel Rp. 40.000,00 (tanpa argo)
- Dari The BCC Hotel ke pelabuhan Punggur Rp. 105.000,00 (blue bird)
- Sky view hotel ke bandara Rp. 78.000,00 (blue bird)
b. Angkutan kota
Moda transportasi ini kami gunakan untuk perjalanan di dalam kota Batam dan menuju kota Batam sepulang dari pulau Bintan (pelabuhan Punggur). Tarif angkutan umum di Batam menurut saya paling mahal seluruh Indonesia, Rp. 20.000,00/orang dari Punggur ke kawasan Nagoya. Sedangkan tarif dalam kota berkisar Rp. 6.000,00-Rp. 10.000,00, dibandingkan dengan kota lain bahkan kota Bandung sekalipun tarif angkot hanya Rp. 3.000,00 untuk jarak dekat.
c. Ferry
- Batam ke Bintan selama kurang lebih 60 menit menggunakan ferry Baruna dengan tarif Rp. 55.000,00/orang tambah pass penumpang Rp. 5.000,00/orang.
- Bintan ke Batam menaiki speedboat dengan tarif Rp. 42.000,00/orang (waktu tempuh 15 menit).
- Menyeberang ke Pulau Penyengat dengan perahu nelayan Rp. 12.000,00/orang.
ruang kabin ferry baruna

ferry baruna

d. Sewa Mobil dan Bentor

- Sewa mobil di Bintan plus driver Rp. 250.000,00. BBM Rp.150.000,00. No kontak (ibu Yati : 08126164440)
- Sewa mobil di Batam plus driver Rp. 250.000,00. BBM Rp. 150.000,00 No kontak (Renold : 085264297444)
- Sewa bentor di pulau Penyengat Rp. 30.000,00

Sewa mobil di kedua kota tersebut sangat memuaskan sehingga bisa saya rekomendasikan untuk pelancong lainnya

e. Ojek
Dari pemberhentian angkot/Damri menuju gerbang masuk Ocarina dan sebaliknya kami menaiki ojek dengan tarif Rp. 10.000,00/motor. No kontak untuk sewa ojek (Ardi : 081261715714).

f. Damri

Menggunakan Damri saat kami hendak menuju pantai Ocarina-Batam, tarif Rp. 4.000,00/orang. Trayek Damri di Batam tidak banyak sehingga warga mayoritas menggunakan angkutan umum.
g. Pesawat
Merelakan tiket AA Pekanbaru-Bandung hangus lalu saya memutuskan naik pesawat Garuda untuk pulang ke Bandung dari pada Lion Air, padahal Garuda mendarat di Jakarta sedangkan Lion Air mendarat di Bandung. Rey telanjur sering menonton berita tentang pilot Lion Air yang bermasalah sehingga enggan menumpang salah satu maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia ini.
end of a long trip

end of a long trip

3. Kuliner

a. Sup ikan Yongki, makanan ini adalah salah satu favorit saya. Pertama kali menyantap makanan berkuah ini di Jakarta belasan tahun lalu.
nyum nyum...sop ikan yongki batam

nyum nyum…sop ikan yongki batam

b. Mi Tarempa, kuliner ini dikenalkan oleh pak Renold driver mobil yang kami sewa. Ini menjadi santapan favorit lainnya setelah Sup ikan Yongki

mi tarempa : murah dan enak

mi tarempa : murah dan enak

mi tarempa dan sup ikan

mi tarempa dan sup ikan

c. RM. Fatmawati di pantai Ocarina, suasana yang menjadi daya tarik makan disini karena berada di bibir pantai sehingga terkesan romantis hehe. Kalau rasa makanannya sih so-so aja.

RM. Singgah Selalu Bintan

RM. Singgah Selalu Bintan

d. RM. Singgah Selalu Tanjungpinang Bintan, kami sarapan disini selepas perjalanan menggunakan ferry dari pulau Batam. Harga makanannya relatif murah dan rasanya enak. Bertiga dengan driver saya hanya membayar sebesar Rp. 70.000,00.

4. Destinasi
a. Kawasan Nagoya-Batam, pusat jual beli alat elektronik di Batam. Tempat ini sudah sangat tidak asing sehingga saya tidak akan mengulas secara detail. Saya disini membeli kamera mirrorless lengkap dengan lensanya sedangkan Rey membeli ponsel Sony Experia Z. Tentang harga?, ngapain jauh-jauh beli di Batam kalau harganya lebih mahal dari pada di Jawa hehe..
b. Pantai Ocarina-Batam, biasa disebut Mega Wisata Ocarina ini adalah sebuah tempat wisata pantai yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2009. Ocarina berada di lahan seluas 40 hektar berada di tepian Teluk Kering, dan komplek perumahan mewah Costarina.

Minggu pagi 22 Desember 2013 sebelum malamnya take off menuju Jakarta, saya mengajak Rey melihat aktivitas warga Batam menghabiskan akhir pekan. Walau sebelumnya kami pernah memasuki kawasan ini untuk bersantap di RM. Fatmawati yang berada di bibir pantai Ocarina namun kesan yang didapat sungguh berbeda.

warga berwisata di ocarina

warga berakhir pekan di ocarina

Tampak rombongan keluarga kecil maupun keluarga besar berlibur di ancol-nya Batam ini pada minggu pagi. Banyak permainan yang ditawarkan seperti sewa sepeda, ayunan, giant wheel, patung-patung shio, dll. Untuk masuk kawasan ini hanya perlu membayar tiket Rp. 10.000,00/orang.

c. Mega Mall-Batam, disini kami menghabiskan sabtu malam dengan menikmati hidangan di food court dan menonton film di XXI. Kami berlaga layaknya warga lokal, bersantai menikmati setiap sudut sekitar mall terbesar di Kepulauan Riau ini. Yang menggembirakan di Sabtu ini adalah kabar bahwa Rey ranking 1, absen mengambil progress report tapi hati kami riang gembira. Begitu banyak orang bertanya bagaimana prestasi sekolah Rey jika sering diajak emaknya plesir, tentu saya tidak pernah menanggapinya dengan kalimat pembelaan karena alhamdulillah sampai detik ini Rey bisa bertanggungjawab terhadap cita-citanya dan menunjukkan prestasi yang baik. Dia selalu mendapat peringkat ‘atas’ di sekolahnya serta  mewakili sekolah dalam lomba english speech, olimpiade matematika, dll.
Saya selalu mengingatkan, “Masa depan Rey ada di tangan Rey, mami hanya mendukung dan mengarahkan. Bercita-cita menjadi seorang ilmuwan bukan hal yang mudah, Rey harus bertanggungjawab dan disiplin serta fokus untuk meraihnya. Mami ajak Rey traveling sebagai salah satu cara membuka selebar-lebarnya wawasan dan pengalaman untuk bekal Rey nantinya hidup jauh dari mami. Setahun lagi Rey bersama mami dan itu takkan mami sia-siakan karena setahun sangat singkat. Saatnya nanti Rey sekolah di luar negeri harus selalu ingat Tuhan dan takutlah pada-Nya. Mami jauh, papi mungkin sibuk tapi Allah SWT selalu dekat jadi jangan pernah berpikir ada sejengkal tanah yang luput dari penglihatan-Nya”. Rey selalu terdiam dan mengangguk perlahan, semoga dapat tertanam dalam ingatannya dan menjadi motivasi meraih cita-cita. You’r centre of my life son….
musholla @mega mall batam

musholla @mega mall batam

jembatan penghubung mega mall dg pelabuhan

jembatan penghubung mega mall dg pelabuhan

nonton film ronin @mega mall

nonton film ronin @mega mall

d. Sekupang-Batam, Di KTM Resort terdapat patung Dewi Kwan Im yang menjadi salah satu tujuan kedatangan wisatawan etnis Tionghoa. Posisi patung ini awalnya berada di dataran tertinggi KTM namun karena adanya protes dari berbagai pihak patung dipindahkan. Protes tersebut dilayangkan karena patung tampak jelas terlihat dari Singapura sehingga dianggap sebagai ikon kota Batam oleh para wisatawan.

KTM Resort sekupang

KTM Resort sekupang

e. Pantai Nongsa-Batam, disebut sebagai salah satu pantai terindah di pulau Batam. Kami hanya sebentar berada disini karena hujan mengurungkan langkah kami menuju pantai yang berpasir putih ini. Namun keindahannya hingga kini terekam dengan jelas dalam ingatan saya, sungguh Indonesia memiliki alam yang luar biasa.

privat beach @nongsa-batam

privat beach @nongsa-batam

f. Kaos T-Obenk Batam, saya dan Rey memesan kaos disini yang bergambar foto pilihan masing-masing. Info lengkap ada disini : http://t-obenk.blogspot.com/

nunggu pesanan kaos

nunggu pesanan kaos

g. Pulau Penyengat-Bintan, cukup meyewa bentor seharga Rp. 30.000,00 kami bisa menjelajah pulau Penyengat.Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah, adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 3 km dari Kota Tanjung Pinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, dan berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat dituju dengan menggunakan perahu bot atau lebih dikenal bot pompong. Dengan menggunakan bot pompong, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Salah satu objek yang bisa kita liat adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Pulau penyengat dan komplek istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu situs warisan dunia. (sumber : wikipedia)

komp makam Raja Ali

komp makam Raja Ali

h. Pantai Trikora-Bintan, disini kami hanya singgah untuk berfoto sebelum melanjutkan perjalanan menuju pantai Lagoi. Sepenglihatan saya Pantai Trikora bila dikelola secara optimal bisa menjadi objek wisata andalan, sayangnya disini tampak semuanya tidak tertata padahal bebatuan yang ada disini tak kalah indah dari pantai di pulau Belitung (Laskar Pelangi).

i. Pantai Lagoi-Bintan, ini adalah destinasi utama pulau Bintan sehingga layak ada jargon, belum ke Bintan kalau tidak ke Lagoi. Yup…eksklusivitas Lagoi dengan harga yang dipatok menggunakan Dollar Singapore sangatlah pantas. Hampir semua kawasan pantai Lagoi menjadi ‘hak paten’ hotel-hotel atau resort yang berada disana. Privat Beach tersebut hanya bisa dikunjungi atau dinikmati fasilitasnya oleh tamu hotel jadi kami pengunjung yang tidak menginap harus cukup puas ‘ngiler’ melihat semua itu.

Kelembutan pasir putihnya dan gemulainya deburan ombak disini menjadi lokasi favorit turis mancanegara untuk melakukan berbagai aktivitas mulai snorkeling, diving, surving, jetski, dll. Saya hanya terpana dan mengumpat dalam hati, “Kenapa keindahan ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir manusia yang notabene bukan WNI”.

Saya dan Rey masih beruntung karena bisa masuk ke salah satu resort dan sekejap merasakan atmosfir sekitar pantai, beda halnya dengan warga lokal yang untuk masuk saja mereka dilarang kalaupun diijinkan mereka diperbolehkan menginjakkan kaki di sisi pantai yang terasing (tempat parkirnya pun dibedakan), sungguh mengenaskan.

j. Jembatan Barelang-Batam (singkatan dari BAtam, REmpang, dan gaLANG) adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau-pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Masyarakat setempat menyebutnya “Jembatan Barelang”, namun ada juga yang menyebutnya “Jembatan Habibie”, karena beliau yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau.

Jembatan Barelang telah menjadi ikon Kota Batam, bahkan telah populer sebagai landmark-nya Pulau Batam. Apabila Kota Jakarta identik dengan Monas maka orang akan mengidentikan Kota Batam dengan Jembatan Barelang (Barelang Bridge).

Nama Jembatan Barelang yang di berikan oleh masyarakat setempat ternyata lebih popular ketimbang nama aslinya yaitu Jembatan Fisabilillah. Nama “Barelang” oleh masyarakat diambil dari nama-nama pulau yang dihubungkan oleh jembatan tersebut; Batam, Rempang, dan Galang. Jembatan Barelang memiliki nama lain, Jembatan Habibie atau Jembatan satu.

Jembatan Barelang merupakan pilot project berteknologi tinggi yang melibatkan ratusan insinyur Indonesia tanpa campur tangan dari tenaga ahli luar negeri. Dibangun untuk memperluas wilayah kerja Otorita Batam (OB) sebagai regulator daerah industri Pulau Batam. Pembangun jembatan Trans Barelang telah menyedot anggaran Otorita Batam (OB) sebesar Rp 400 Miliar yang dibangun dalam masa enam tahun (1992 – 1998). Enam buah jembatan megah ini merupakan proyek vital sebagai penghubung jalur Trans Barelang yang membentang sepanjang 54 kilometer.

Jembatan Barelang terdiri dari enam buah jembatan.Keenam buah jembatan Barelang tersebut terdiri dari:

  1. Jembatan Tengku Fisabilillah (jembatan I), jembatan yang terbesar
  2. Jembatan Nara Singa (jembatan II)
  3. Jembatan Raja Ali Haji (jembatan III)
  4. Jembatan Sultan Zainal Abidin (jembatan IV)
  5. Jembatan Tuanku Tambusai (jembatan V)
  6. Jembatan Raja Kecik (jembatan VI). (sumber : wikipedia)

k. Pulau Galang biasa disebut kampung Vietnam. Pulau Galang menjadi saksi kelam sejarah dan tragedi para pengungsi Perang Vietnam.

monyet menyambut kami di pulau galang

monyet menyambut kami di pulau galang

barak pengungsi

barak pengungsi

Ini merupakan peninggalan dari pengungsi warga Vietnam yang menolak peperangan. Mereka dibantu oleh UNHCR PBB untuk dibuatkan fasilitas seperti tempat ibadah, rumah sakit dll.

gereja @pulau galang

gereja @pulau galang

banyak juga pengungsi yg dimakamkan di pulau galang

banyak juga pengungsi yg dimakamkan di pulau galang

Tetapi kisah mereka tidak sepenuhnya happy ending, karena terdapat juga tempat penggemblengan kaum muda dan penjara, karena banyak juga tindakan kriminal. Di pulau ini dulu banyak terjadi pembunuhan dan pemerkosaan. Stress dan depresi kerap menghantui setiap orang. (sumber : detik.travel.com)

………………………………….

Saya dan Reyhan adalah traveler yang bukan sok miskin dengan pemilihan segala sesuatu yang ‘serba murah’ bukan pula turis manja yang selalu enggan keluar dari ‘zona nyaman-nya’. Saya hanya ingin mengajak Rey merasakan sisi lain kehidupan agar dia memiliki empati, rasa sayang dan ringan tangan membantu kaum papa (dalam pelaksanaannya biarlah hanya Tuhan yang tahu agar terhindar dari sifat Riya). Alhamdulillah sejak lahir dia belum pernah merasakan hidup kekurangan materi sedikitpun, tapi itu bukan berarti saya akan memanjakannya karena hidup memerlukan daya juang. Bahwa kami memilih angkot bukan karena tidak punya mobil, bukan pula karena tidak mampu bayar taksi. Memilih budget hotel bukan tidak memiliki rumah yang nyaman dengan segala fasilitas didalamnya, bukan pula memaksa sok borju agar diangggap sebagai ‘orang berkelas’. Memilih pesawat low cost bukan tak mampu bayar pesawat berharga mahal bukan pula kami tidak pernah naik pesawat reguler.

Sering saya katakan kepada Rey :“Tidak perlu menjadi miskin untuk bisa merasakan apa yang dirasakan kaum papa, karenanya kita harus pandai bersyukur dengan semua yang kita miliki. Sebaliknya tidak perlu ‘ngoyo’ apalagi menghalalkan segala cara untuk menimbun harta karena sejatinya orang kaya adalah orang yang selalu bersyukur atas semua karunia Tuhan. Jadilah manusia yang selalu merasa cukup, bukan berarti malas berusaha karena usaha adalah kewajiban sedangkan hasil serahkan kepada Allah SWT. Setiap perjalanan kita adalah proses belajar, belajar yang menyenangkan. So..bersiaplah untuk agenda travel kita selanjutnya”.

Jelajah Nusantara (8) : Sekitar Bandung Aja

Tahun 2013  telah berakhir, di penghujung tahun saya menjalani beberapa aktivitas baik traveling maupun tugas kantor yang sangat padat. Yang akan saya bagi disini tentu hanya tentang traveling, siapa tau ada pembaca yang berniat liburan ke Bandung dan sekitarnya.

Pada 30 November  2013 saya dan Rey berlibur akhir pekan ke Subang dan Lembang. Keputusan itu diambil gara-gara kepincut menginap di Imah Seniman. Dengan begitu kami akhirnya mengunjungi beberapa tempat antara lain : Tangkuban Perahu, Capolaga adventure camp, Lembang floating market dan tak ketinggalan menikmati panganan khas setempat yaitu surabi enhai.

1. Imah Seniman

Adalah sebuah resort dan villa beralamat di jl. Kolonel masturi no.8 Lembang. Resort ini menawarkan suasana alam lengkap dengan hutan tanaman tropis, danau, kolam ikan dan kamar-kamar dengan desain konsep jaman baheula (jadul) beratapkan jerami, lantai kayu yang diterangi oleh obor.

jalan menuju resort

kafe dengan bangunan tempo dulu

what a beautiful place

what a beautiful place

Bosan dengan suasana perkotaan dengan hiruk pikuknya, saya mengajak Rey menginap di salah satu villa di Imah Seniman yang berada tepat di pinggir danau. Dari jendela kami bisa melihat ikan-ikan melenggok bak pinggul seorang penari (asli lebay ini sih haha).

Konsep kembali ke alam yang menjadi tema resort ini sungguh tak terbantahkan kenyamanannya. Saya benar-benar merasa tidur di dalam hutan dimana terdengar suara gemericik air bersahutan dengan kicauan burung dan suara nyaring jangkrik. Andai harga menginap disini tidak perlu merogoh kantong cukup tebal, ingin rasanya memperpanjang masa inap kami.

Untuk bisa tidur di hutan ala Imah Seniman pengunjung harus rela mengeluarkan dana antara Rp. 600-000 – Rp. 3.500.000. Tarif week end tentunya lebih mahal dari kisaran tersebut, namun jumlah itu menurut saya worth it banget karena sebanding dengan layanan yang diberikan.

Resort ini bukan hanya menawarkan tempat menginap, Bob Doank sang pemilik membangun kawasan ini sebagai kampung wisata dimana didalamnya pengunjung bisa menikmati hasil karya seni, belajar melukis, belajar membuat kerajinan tangan, toko souvenir, kafe, arena bermain anak seperti ATV, flying fox, kolam renang, dll.

2. Capolaga Adventure Camp

Sengaja berangkat dari rumah pagi banget karena hari sabtu di Bandung jangan harap tanpa embel-embel macet. Jam 6 mobil sudah saya starter dengan tujuan mendahului orang-orang Jakarta yang doyan bermalam minggu di Bandung. Alhamdulillah trik saya jitu, dengan laju kecepatan rata-rata 60 km/jam waktu tempuh dari Kota Baru Parahyangan Padalarang ke Capolaga Subang hanya kurang dari 90 menit.

kami pengunjung pertama yang tidak menginap

kami pengunjung pertama yang tidak menginap

anggap aja warming untuk mendaki gunung Fuji ya Rey

anggap aja warming up untuk mendaki gunung Fuji ya Rey

Capolaga tepatnya berada di pertigaan antara Bandung, Ciater, dan Desa Cicadas Kab. Subang, Pada pertigaan setelah Tangkuban Perahu bila belok ke kanan menuju kota Subang maka Capolaga belok kiri (arah Desa Cicadas). Jarak dari Subang - Capolaga Adventure Camp kurang lebih 35 km , dari Jakarta (melalui jalan tol Sadang) kurang lebih 190 km , dari Bandung ke Capolaga adventure Camp adalah 45 km. Informasi lebih lanjut hubungi : 08157165232, 081802009489, 0818622674 atau 0260470941.

ini brosurnya, siapa tau ada yang berminat

ini brosurnya, siapa tau ada yang berminat

brosur halaman sebaliknya

brosur halaman sebaliknya

Sebagai ‘penglaris’, saya disambut dengan senyum hangat  pak H. Endang pemilik kawasan wisata alam ini. Setelah diberi saran tentang  lokasi parkir dan membayar tiket  sebesar Rp. 9.000,00 (Sembilan ribu rupiah) kami dipersilakan masuk dengan menuruni beberapa anak tangga.

Setelah menuruni anak tangga kami melewati jembatan dan terus menyusuri jalanan setapak  yang menebarkan aroma tanah basah nan menyegarkan. Beraneka jenis pohon dengan dedaunan warna hijaunya sangat menyejukkan. Air mengalir di sepanjang sisi kiri maupun kanan menambah daya pikat kawasan ini. Dan yang paling menyenangkan,  sepanjang perjalanan saya tidak menemukan sampah. Melihat hal itu saya langsung menghampiri salah seorang petugas kebersihan, Pak Dasim namanya. Lelaki paruh baya ini mengatakan bahwa membersihkan kawasan ini bukan semata karena tuntutan pekerjaan tapi bukti kecintaannya kepada alam ciptaan Tuhan YME. Semua pekerja di Capolaga memang diberi pemahaman tentang kecintaan kepada Allah SWT salah satunya dengan menjaga alam sebaik mungkin, begitu yang dijelaskan pak Endang sang pemilik area seluas 1,5 hektar ini kepada saya sebelum kami pulang.

Capolaga selain menawarkan penginapan berupa kamar-kamar juga menyewakan kemah bagi pengunjung yang ingin bermalam di lokasi perkemahan yang telah disediakan. Suatu hari saya jadi kepingin berkemah disini, kebayang asiknya menikmati malam dengan gemericik suara air terjun alami yang ada disini yaitu : air terjun goa badak, air terjun sawer dan air terjun karembong.

“Mami, disini udaranya sejuk ya tapi nyamuknya banyak banget”, keluh Rey sambil memperlihatkan kulit tangan dan kakinya yang memerah akibat gigitan nyamuk. Menanggapi keluhannya saya mengingatkan kembali bahwa lotion anti nyamuk ada di dalam tas.

Memang tidak mudah mengajak anak jaman sekarang untuk mau ‘bercengkerama’ dengan alam namun hal itu bukan berarti saya akan membiarkan Rey hanya asik dengan gadget dan konsol game-nya. Ada saatnya bermain dengan  teknologi tapi dia juga harus bisa menyatu dengan alam.
3. Tangkuban Perahu
Menjelang siang, kemudi saya arahkan menuju Tangkuban Perahu. Tangkuban perahu adalah salah satu gunung yang terletak di Jawa Barat. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.

Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu. (sumber : wikipedia)

4. Lembang Floating Market
Di lokasi ini saya kehilangan ‘bukti dokumentasi’. Kamera saku yang mendadak error, semua gadget saya lowbat hanya hp Rey yang masih menyimpan sedikit daya. Karena tipikal Rey yang ngga senarsis emaknya dia sangat sulit meminjami ponselnya untuk sekedar mengabadikan momen. Setelah melalui ‘perdebatan’ yang alot akhirnya dia sempat memotret beberapa momen kami di pasar terapung. Nahasnya, ponsel tersebut kini raib alhasil tidak ada satupun dokumentasi saat kami berada disini.

Tanpa dokumentasi fisik, ingatan saya masih cukup kuat merekam apa saja yang ada disana. Memasuki kawasan ini sekitar jam 2 siang setelah kami makan siang di RM. Sindang Reret, antrian mengular cukup panjang dan kami disambut oleh petugas penjual tiket masuk yang melakukan pola ‘jemput bola’ (mendatangi mobil kami saat mengantri. Harga tiket masuknya saya lupa persis, yang pasti lebih mahal dari pada Capolaga.

Tiket masuk tadi bisa ditukar dengan segelas minuman, boleh memilih coklat panas, kopi, dan beberapa pilihan minuman lainnya. Floating market di Lembang ini menurut saya hanya tempat makan yang dikemas sedemikian rupa agar pengunjung merasakan atmosfir yangberbeda dengan tempat makan lainnya.
Beragam makanan ditawarkan, dan semua transaksi hanya menggunakan koin. Selain makanan, ada juga layanan sewa perahu untuk mengitari danau buatan. Secara pribadi saya dan Rey sepakat tidak terlalu menikmati suasana disini, terlalu ramai dan suasananya ya seperti taman-taman buatan pada umumnya. Untuk sensasi natural, Capolaga jauh lebih baik dari pada floating market.
5. Trans Studio Bandung (TSB)
Liburan akhir tahun Rey ke rumah neneknya namun kediaman saya diramaikan oleh kehadiran 4 orang krucil yang super lincah. Mereka adalah anak dari 2 orang adik saya yang tinggal di Bekasi. Seperti liburan-liburan lalu, mereka saya ajak jalan-jalan dan kali ini permintaannya adalah Trans Studio Bandung.

Berhitung dimulai!!….4 orang ponakan, 3 ibu-ibu (saya, adik,  adik ipar), papa saya. Yup total 8 orang, harga tiket masuk TSB adalah harga yang paling aneh di seluruh dunia. Dari semua obyek wisata yang pernah saya kunjungi baik di Asia hingga Eropa, Disneyland Paris sekalipun membuat aturan harga tiket berjenjeng sesuai usia pengunjung. Jadi harga untuk bayi, anak-anak, dewasa dan manula adalah berbeda. Keanehan pertama yang sangat super dan menjengkelkan dari TSB adalah tarif flat semua umur yaitu Rp. 250.000,00 (week end).

Keanehan yang tak kalah menjengkelkan kedua sudah saya ketahui karena pada pembukaan TSB beberapa waktu lalu saya  masuk ke arena bermain terbesar di Bandung ini bersama Rey. Keanehan tersebut adalah tidak diperbolehkannya pengunjung membawa minuman dan makanan. Ckckck…bisnis banget yak!!. Wong saya masuk ke Paris Disney, London eye, Hongkong Disney, Universal Studio, Genting Highland dan objek wisata lainnya nggak pernah ada aturan seperti itu. Saya membawa minuman susu coklat panas saat di Eropa masuk ke theme park disana fine-fine aja tuh. Bahkan mereka menyediakan kran-kran air minum sehingga hanya berbekal botol kosong kami bisa sepuasnya minum tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Di TSB kami harus rela merogoh uang sebesar  Rp. 18.000 untuk membeli sebotol kecil kemasan air mineral, Rp. 200.000 untuk 4 piring baso tahu dan makanan lainnya yang dijual dengan harga berasa kita ada diatas awan (selevel dengan harga makanan di pesawat Air Asia).

Tentang permainan di TSB banyak orang sudah tidak asing lagi jenisnya sehingga saya enggan mengulasnya disini tapi yang melegakan bagi saya bahwa tinggi badan keempat orang ponakan saya sudah memenuhi batas minimum. Yang saya garis bawahi seperti pada ulasan yang lalu tentang TSB bahwa pengelola tidak membuat kreativitas yang baik untuk membunuh kebosanan pengunjung saat antri memasuki wahana permainan. Rekor saya mengantri adalah selama 2 jam untuk menonton tayangan 4 dimensi Super Hero. Kalau di luar negeri, pengelola telah memikirkan secara detail bagaimana agar pengunjung tidak bosan saat mengantri dengan memberikan tontonan atau berbagai informasi berkaitan dengan atraksi yang hendak kita masuki. TSB sih semuanya serba ‘asal’, asal dapet duit (tiket harga flat, bayi merah yang baru brojol aja harganya sama dengan orang dewasa), asal laku jualannya (menerapkan aturan nggak boleh bawa makanan/minuman dan nggak boleh masuk lagi bila telah keluar arena). Ada sih pilihan keluar-masuk dengan tiket 2x lipat harga normal. Asal yang lainnya adalah asal banget memperlakukan pengunjungnya, kebosanan berada dalam antrian tidak disiasati dengan pertunjukkan lainnya di area antrian.

Mungkin bagi orang lain yang belum berpengalaman bermain di arena serupa cukup puas dengan TSB tapi saya dan reyhan BIG NO. Kami merasa diperlakukan sebagai konsumen dengan baik di theme park mancanegara dari pada TSB.
6. Monas
Hahaha Monumen Nasional yang berada di Jakarta ini hampir terlewat dari agenda travel kami. Padahal Eiffel sudah kami jabani, begitu juga Menara Pisa, Bigben di London, Sky Tower di Auckland, Merlion Singapura, Twin Tower Kuala Lumpur, dll.

Kesempatan pose di depan Monas ini juga sangat kebetulan, saat itu saya sedang menjalani tugas kantor tidak jauh dari lokasi gedung setinggi 17 meter ini berada makanya Rey alpa menemani emaknya di tengah teriknya Jakarta Desember lalu.

Memang seringkali yang dekat kita abaikan karena kita lebih tertantang mengejar yang jauh, seperti kata pepatah Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak (nyambung nggak ya hehe). Yang pasti setiap hari saya belajar memperbaiki diri, menghargai setiap waktu yang ada dan bijak menggunakannya termasuk menggunakan waktu untuk traveling hahaha (lagi dan lagi otak ini dipenuhi hasrat plesir, tahun 2014 udah melingkari tanggal-tanggal cantik)
“Setiap perjalanan adalah kalimat yang tertulis di halaman catatan kehidupan saya, yang pada akhirnya catatan tersebut akan diserahkan kepada Sang Pencipta. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan ridho dan perlindungan dalam setiap langkah kami”.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 425 other followers